Gelombang Panas Ekstrem, Inggris Pecahkan Rekor Suhu Sejak 1976


 Gelombang Panas Ekstrem, Inggris Pecahkan Rekor Suhu Sejak 1976 Foto Dokumen: Distrik keuangan Kota London dapat dilihat ketika orang-orang berjalan di sepanjang sisi selatan Sungai Thames, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di London, Inggris, 19 Maret 2021.

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Inggris mencatat rekor suhu udara tertinggi dalam 50 tahun terakhir setelah temperatur di wilayah selatan mencapai 36,1 derajat Celsius. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Juni 1976.

Badan meteorologi Inggris, Met Office, menyampaikan bahwa suhu tertinggi harian di bulan Juni tercatat di Gosport, Hampshire, pada Rabu waktu setempat.

“Inggris sementara ini mencatatkan rekor temperatur udara harian tertinggi di bulan Juni, dengan suhu 36,1 derajat Celsius tercatat di Gosport, Hampshire, hari ini,” tulis Met Office melalui akun media sosial X, Rabu (25/6/2026).

Sebelumnya, rekor suhu tertinggi Inggris berada di angka 35,6 derajat Celsius yang tercatat di Southampton pada Juni 1976 serta di Camden Square, London, pada Juni 1957. Rekor tersebut kini resmi terlampaui di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah.

Dampak cuaca panas ini juga mulai dirasakan dalam aktivitas masyarakat. Salah satunya, kegiatan London Climate Action Week yang berfokus pada kampanye adaptasi terhadap perubahan iklim terpaksa dibatalkan.

Panitia menyebut lokasi acara dan banyak bangunan di London belum dilengkapi sistem pendingin udara yang memadai. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan ketidaknyamanan hingga risiko kesehatan bagi pembicara maupun peserta, terutama setelah beraktivitas di tengah suhu tinggi dan transportasi umum yang padat.

Sebelumnya, Met Office juga telah mengeluarkan peringatan cuaca panas untuk wilayah Inggris dan Wales, dengan prediksi suhu dapat mencapai hingga 39 derajat Celsius. Namun, proyeksi tersebut kemudian direvisi menjadi lebih rendah.

Meski demikian, gelombang panas yang terjadi tetap menjadi perhatian serius karena dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas publik di Inggris.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru