Loading
Parlemen Venezuela secara resmi melantik Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara, menyusul penahanan Nicolás Maduro oleh otoritas Amerika Serikat. (x.Com)
CARACAS, ARAHKITA.COM — Parlemen Venezuela secara resmi melantik Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara, menyusul penahanan Nicolás Maduro oleh otoritas Amerika Serikat. Pelantikan ini berlangsung di tengah ketegangan politik internasional dan gelombang protes pendukung Maduro di Caracas.
Dalam pidato perdananya di hadapan Majelis Nasional, Rodríguez—yang menjabat wakil presiden sejak 2018—menyebut penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sebagai tindakan yang ia nilai tidak sah. Ia menyebut peristiwa itu sebagai “penculikan politik” yang melanggar kedaulatan Venezuela.
Maduro Bersikeras Masih Presiden
Baca juga:
Delcy Rodríguez Bicara dengan Lula, Petro, dan Pedro Sánchez soal Serangan AS ke VenezuelaBeberapa jam sebelum pelantikan Rodríguez, suasana dramatis terjadi di ruang sidang New York. Maduro muncul di hadapan hakim dan menyatakan tidak bersalah atas serangkaian dakwaan, mulai dari konspirasi perdagangan narkoba hingga tuduhan terorisme. Ia bahkan menegaskan dirinya masih presiden sah Venezuela dan menyebut dirinya “tawanan perang”.
Hakim federal Alvin Hellerstein menanggapi pernyataan tersebut dengan menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan sesuai mekanisme pengadilan.
Baca juga:
Delcy Rodríguez Bicara dengan Lula, Petro, dan Pedro Sánchez soal Serangan AS ke VenezuelaPBB Diguncang Debat Keras
Situasi Venezuela turut memicu sidang darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, menuding AS melakukan agresi bersenjata tanpa dasar hukum internasional.
Sebaliknya, perwakilan AS di PBB, Mike Waltz, menyebut Maduro sebagai pemimpin tidak sah dan menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan langkah penegakan hukum yang ditargetkan.
Washington Terbelah
Di dalam negeri AS, langkah ini memicu perdebatan. Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, menilai rencana AS terhadap Venezuela tidak jelas dan berisiko membuka preseden buruk. Sementara itu, Ketua DPR AS Mike Johnson membantah tudingan perubahan rezim, dengan menyebutnya sebagai upaya menekan perubahan perilaku pemerintahan Caracas.
Presiden Donald Trump sendiri menyatakan AS siap “mengelola” Venezuela hingga tercapai transisi yang aman. Ia bahkan membuka peluang masuknya perusahaan minyak AS untuk memulihkan infrastruktur energi negara tersebut.
Sikap Hati-hati Rodríguez
Meski dilantik di tengah tekanan, Rodríguez mengambil nada lebih moderat. Dalam rapat kabinet awal, ia menyatakan terbuka pada kerja sama dengan AS selama berada dalam koridor hukum internasional. Namun, ia juga menegaskan bahwa pelantikannya dilakukan “dengan berat hati” akibat penderitaan rakyat Venezuela dilansir bbc.com.
Di luar gedung parlemen, ribuan warga turun ke jalan membawa potret Maduro sebagai simbol dukungan. Putra Maduro turut menyampaikan pernyataan di parlemen, menegaskan keyakinan bahwa orang tuanya akan kembali ke Venezuela dan menyatakan dukungan penuh kepada Rodríguez.
Sidang lanjutan kasus Maduro dijadwalkan berlangsung pada 17 Maret, sementara dunia internasional terus memantau arah baru politik Venezuela di bawah kepemimpinan sementara Delcy Rodríguez.