Loading
Arsip foto - Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez. /ANTARA/Anadolu/py.
WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait situasi politik Venezuela. Dalam wawancara telepon dengan majalah The Atlantic, Minggu (4/1/2025), Trump memperingatkan presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, agar mengikuti langkah yang dianggap sejalan dengan kepentingan Washington.
Trump menegaskan, kegagalan Rodríguez untuk “melakukan hal yang benar” akan berujung pada konsekuensi besar. Ia bahkan menyebut dampaknya bisa lebih berat dibanding yang dialami Presiden Venezuela sebelumnya, Nicolás Maduro, yang ditangkap pasukan Amerika Serikat dalam operasi militer di Caracas pada Sabtu (3/1/2025).
Penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diklaim sebagai hasil operasi militer AS yang menurut Trump dilakukan demi menegakkan hukum internasional. Ia juga menyatakan Amerika Serikat siap mengambil alih kendali sementara atas Venezuela, termasuk dengan pengerahan pasukan tambahan jika situasi dianggap memerlukan.
Usai penangkapan tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara. Namun, Trump menuding Maduro selama ini terlibat dalam jaringan penyelundupan narkotika ke Amerika Serikat serta mempertahankan kekuasaan melalui proses pemilu yang dinilainya tidak sah.
Maduro sendiri membantah seluruh tuduhan tersebut. Dari fasilitas penahanan di New York, ia menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika. Sejumlah pejabat di Caracas juga menyerukan pembebasannya, menyebut langkah AS sebagai bentuk intervensi yang melanggar kedaulatan negara.
Baca juga:
Delcy Rodríguez Bicara dengan Lula, Petro, dan Pedro Sánchez soal Serangan AS ke VenezuelaMenariknya, sikap Trump terhadap Rodríguez dinilai berubah dalam waktu singkat. Beberapa jam setelah operasi militer berlangsung, Trump sempat memuji Rodríguez dan menyebutnya bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menata ulang pemerintahan Venezuela.
“Dia mengatakan siap melakukan apa yang kami anggap perlu agar Venezuela bisa kembali stabil,” ujar Trump dalam konferensi pers.
Pernyataan tersebut segera dibantah Rodríguez. Ia menegaskan Venezuela tidak akan tunduk pada kekuatan asing dan siap mempertahankan sumber daya alamnya. Rodríguez juga menegaskan loyalitas institusi pertahanan negara tetap berada di jalur kebijakan Maduro.
“Kami tidak akan pernah kembali menjadi koloni,” tegasnya dikutip Antara.
Isyarat Perubahan Rezim
Dalam wawancara itu, Trump juga membuka kemungkinan gelombang lanjutan operasi militer jika situasi dinilai memburuk. Ia menyebut “perubahan rezim” sebagai opsi yang menurutnya lebih baik dibanding kondisi Venezuela saat ini.
“Situasi di sana tidak mungkin menjadi lebih buruk,” ujar Trump.
Pernyataan ini dinilai kontras dengan pidato Trump pada Desember 2016, ketika ia menyatakan Amerika Serikat seharusnya berhenti menjatuhkan rezim asing dan fokus pada pembangunan dalam negeri. Saat ditanya soal perbedaan sikap tersebut, Trump mengalihkan pembahasan dengan merujuk pada kebijakan Presiden AS terdahulu, George W. Bush, khususnya terkait invasi Irak.
Trump juga menyinggung ambisinya memperkuat pengaruh AS di Belahan Barat, dengan merujuk pada tafsir modern Doktrin Monroe. Namun ia menegaskan bahwa intervensi di Venezuela didasarkan pada kondisi negara tersebut, bukan semata faktor geografis.
Di akhir wawancara, Trump bahkan mengisyaratkan bahwa Venezuela mungkin bukan satu-satunya wilayah yang menjadi perhatian AS. Ia kembali menyinggung keinginannya terhadap Greenland, dengan alasan kepentingan strategis di tengah meningkatnya aktivitas Rusia dan China—meski wacana tersebut terus ditolak oleh masyarakat dan pemimpin Greenland.