Loading
Kerugian enipuan investasi media sosial, dan penipuan asmara melonjak. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Tingkat kejahatan di Jepang meningkat untuk tahun keempat berturut-turut sepanjang 2025, didorong lonjakan penipuan bernilai fantastis serta kenaikan sejumlah pelanggaran seksual.
Data resmi yang dirilis Badan Kepolisian Nasional Jepang pada 12 Februari menunjukkan total pelanggaran hukum pidana mencapai 774.142 kasus, naik 4,9 persen dibanding tahun sebelumnya dan melampaui level sebelum pandemi.
Pencurian, dilansir Asahi Shimbun, masih mendominasi dengan porsi hampir 70 persen dari seluruh kasus dan meningkat 2,5 persen. Namun lonjakan paling tajam terjadi pada kejahatan kerah putih yang melonjak 25 persen. Pelanggaran terkait pengambilan gambar seksual diam-diam naik 18,1 persen, sementara tindakan tidak senonoh tanpa persetujuan meningkat 2,9 persen. Kejahatan berat seperti pembunuhan dan perampokan juga bertambah 3,6 persen, sedangkan kasus hubungan seksual tanpa persetujuan naik 6,1 persen.
Otoritas menyebut peningkatan laporan kejahatan seksual juga dipengaruhi reformasi hukum dan lingkungan pelaporan yang lebih mendukung korban. Meski total kasus kini kembali mendekati level sebelum pandemi, pola jenis kejahatan berubah signifikan. Dibanding 2019, pencurian justru turun 3,5 persen, tetapi kejahatan kerah putih melonjak 2,1 kali lipat, pelanggaran fuzoku meningkat 2,3 kali lipat, dan kejahatan berat naik 1,5 kali lipat.
Survei persepsi publik menunjukkan gambaran yang kompleks. Sekitar 60,3 persen responden menilai keamanan publik masih baik, namun 79,7 persen merasa situasi keamanan memburuk dalam satu dekade terakhir.
Baca juga:
Kemlu Ungkap 10 Ribu Kasus Online Scam Libatkan WNI, Ada yang Beraksi sampai Afrika SelatanLonjakan paling mencolok terjadi pada penipuan. Kerugian dari penipuan khusus, penipuan investasi media sosial, dan penipuan asmara mencapai rekor 324,1 miliar yen (sekitar Rp35,6 triliun) pada 2025, naik 1,6 kali lipat dari tahun sebelumnya dan 3,6 kali lipat dibanding tiga tahun lalu. Penipuan khusus saja mencatat 27.758 kasus dengan kerugian 141,4 miliar yen, dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Rata-rata kerugian per kasus mencapai 5,21 juta yen.
Penipuan investasi berbasis media sosial menghasilkan kerugian 127,4 miliar yen dari 9.538 kasus, dengan rata-rata kerugian 13,42 juta yen. Platform Instagram menjadi pintu masuk paling umum, disusul YouTube yang mengalami lonjakan kasus hingga 21 kali lipat. Banyak korban kemudian diarahkan ke aplikasi pesan LINE melalui iklan yang meniru investor terkenal.
Penipuan asmara juga meningkat tajam dengan 5.604 kasus dan kerugian 55,2 miliar yen, naik 38 persen. Sebanyak 76 persen korban berusia 40 hingga 60 tahun. Lebih dari 30 persen kasus berawal dari aplikasi kencan, sementara lebih dari 20 persen dimulai dari Instagram. Otoritas mencatat tren baru di mana korban diminta mengirim aset kripto.
Kepala lembaga kepolisian, Yoshinobu Kusunoki, menggambarkan situasi ini sebagai sangat kritis. Ia menegaskan aparat akan memperkuat penindakan terhadap kelompok kriminal anonim yang bergerak cepat serta meningkatkan langkah pencegahan.
Pihak berwenang menilai lonjakan penipuan dipicu perubahan gaya hidup pascapandemi yang makin mengandalkan interaksi non-tatap muka, termasuk penggunaan media sosial dan perbankan digital. Kondisi itu membuat pelaku kejahatan lebih mudah menjangkau korban tanpa batas geografis.