Serangan Drone Guncang Dubai, Hotel Ikonik Burj Al Arab Terbakar


 Serangan Drone Guncang Dubai, Hotel Ikonik Burj Al Arab Terbakar Hotel ikonik Dubai Burj Al Arab sebelum terbakar. (Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Hotel ikonik Burj Al Arab di Dubai mengalami kebakaran ringan setelah puing drone yang dicegat jatuh dan menghantam fasad luar bangunan pada Sabtu. Otoritas menyatakan insiden berhasil dikendalikan cepat dan tidak menimbulkan korban luka.

Pemerintah menyebut insiden terjadi di tengah gelombang serangan balasan yang dilancarkan Iran setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayahnya. Kantor Media Dubai menyatakan sebuah drone berhasil dicegat sistem pertahanan udara, namun puingnya memicu api kecil di bagian luar hotel sebelum dipadamkan tim pertahanan sipil.

Terletak di pulau buatan dekat pantai, hotel setinggi 60 lantai itu berada tidak jauh dari Burj Khalifa. Insiden tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerusakan di sejumlah titik kota pada hari yang sama.

Empat orang dilaporkan terluka dalam peristiwa terpisah di Bandara Dubai. Puing pencegatan udara juga memicu kebakaran di kawasan pelabuhan Jebel Ali serta di luar hotel Fairmont The Palm yang berada di area elit Palm Jumeirah. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan objek terbang menghantam gedung tinggi disertai ledakan keras.

Ketegangan meningkat setelah mantan presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi militer bernama Epic Fury yang menargetkan fasilitas pemerintah dan militer Iran. Ia juga menyatakan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut dan menegaskan pemboman akan berlanjut hingga tujuan operasi tercapai.

Serangan udara dilaporkan menghantam berbagai lokasi di Iran dengan ratusan korban jiwa, termasuk puluhan korban di sebuah sekolah dekat Selat Hormuz menurut media pemerintah setempat. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke sejumlah negara kawasan yang menjadi sekutu Barat, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Dalam surat kepada Dewan Keamanan PBB, menteri luar negeri Iran menyatakan semua pangkalan dan aset AS maupun Israel di kawasan dianggap sebagai sasaran militer sah. Sejumlah negara seperti Rusia dan Tiongkok mengecam serangan tersebut, sementara negara Eropa mendesak penyelesaian diplomatik.

Di Washington, reaksi politik terbelah. Di Capitol Hill, sejumlah politisi oposisi menyebut operasi militer itu ilegal dan mendorong pemungutan suara resolusi kekuasaan perang. Sebaliknya, kalangan pendukung pemerintah menilai tindakan militer diperlukan demi keamanan nasional dan stabilitas kawasan.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru