Loading
Konflik Iran dan Israel memicu eskalasi besar di Timur Tengah. AS memerintahkan stafnya meninggalkan Arab Saudi. (Ilustrasi ChatGPT AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah konflik antara Iran dan Israel meluas ke kawasan yang lebih luas. Situasi ini membuat Amerika Serikat mengambil langkah darurat dengan memerintahkan staf pemerintah yang tidak memiliki tugas penting untuk meninggalkan Arab Saudi.
Langkah tersebut dilakukan karena meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk, termasuk ancaman serangan rudal, drone, hingga potensi aksi terorisme. Selain itu, konflik yang terus meluas juga memicu lonjakan tajam harga minyak dunia dan mengguncang pasar keuangan global.
Dalam laporan yang dikutip dari CNBC, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan perintah evakuasi bagi pegawai non-esensial dari Arab Saudi setelah meningkatnya risiko akibat perang yang melibatkan Iran. Ketegangan ini terjadi bersamaan dengan melonjaknya harga minyak dunia hingga melampaui $110 per barel, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Serangan Israel Memicu Ketegangan Baru
Militer Israel dilaporkan meluncurkan gelombang serangan baru yang menargetkan berbagai fasilitas yang disebut sebagai infrastruktur “rezim teror” di wilayah tengah Iran.
Serangan tersebut terjadi hanya sehari setelah beberapa fasilitas minyak Iran dihantam, memicu kebakaran besar serta asap tebal yang terlihat dari ibu kota Teheran hingga kota Karaj di sekitarnya.
Serangan terhadap fasilitas energi ini dianggap sebagai salah satu eskalasi paling signifikan sejak konflik terbaru di Timur Tengah dimulai.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Dampak konflik langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah melonjak drastis setelah gangguan pengiriman terjadi di Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 30% atau naik sekitar $27, sehingga diperdagangkan di kisaran $117 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent naik lebih dari 25% hingga mencapai sekitar $118 per barel.
Lonjakan ini merupakan yang tertinggi sejak krisis energi yang terjadi setelah Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.
Gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama. Sejumlah kapal tanker dilaporkan menghindari jalur tersebut setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang melintas.
Produksi Minyak Timur Tengah Dikurangi
Situasi ini semakin rumit setelah beberapa negara produsen minyak di Timur Tengah mengumumkan pengurangan produksi. Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dilaporkan memangkas produksi karena pasokan minyak menumpuk akibat terganggunya pengiriman.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka berupaya memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Washington telah mengambil langkah untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran tersebut.
Pasar Global Mulai Panik
Kondisi geopolitik yang tidak menentu membuat pasar keuangan global bereaksi negatif. Bursa saham di Asia mengalami penurunan karena investor mulai menghindari aset berisiko.
Para analis memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi berlangsung lama dan bisa menimbulkan dampak ekonomi yang lebih luas.
Clayton Seigle, pakar energi dan geopolitik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai pasar sebelumnya terlalu optimistis terhadap kemungkinan konflik tetap terkendali.
Menurutnya, masa tenang bagi pasar sudah berakhir dan dunia mungkin harus menghadapi periode krisis yang lebih panjang.
Iran Tunjuk Pemimpin Baru
Di tengah situasi yang semakin memanas, Iran juga menunjuk Mojtaba Khamenei, putra mendiang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sebagai otoritas agama dan politik baru negara tersebut.
Penunjukan ini memperkuat pengaruh kelompok garis keras di Iran serta meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik lebih lanjut.
Israel sebelumnya telah memperingatkan bahwa siapa pun yang menggantikan Khamenei bisa menjadi target serangan. Sementara itu, mantan Direktur CIA David Petraeus menyebut penunjukan Mojtaba sebagai perkembangan yang “tidak menguntungkan” karena dianggap melanjutkan garis ideologis keras ayahnya.
Dunia Serukan Gencatan Senjata
Sejumlah negara mulai mendorong upaya diplomatik untuk meredakan konflik. China mengirim utusan khusus ke Timur Tengah guna memediasi kemungkinan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri China Wang Yi bahkan menyebut konflik tersebut sebagai perang yang “seharusnya tidak pernah terjadi”.
Sementara itu, beberapa negara lain seperti Australia sedang meninjau permintaan dukungan pertahanan dari negara-negara Teluk, meski menegaskan tidak akan terlibat dalam operasi militer ofensif terhadap Iran.