Jerman Tolak Wacana Tarif Kapal di Selat Hormuz, Tegaskan Kebebasan Navigasi


 Jerman Tolak Wacana Tarif Kapal di Selat Hormuz, Tegaskan Kebebasan Navigasi Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul. /ANTARA/Xinhua/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Kali ini, perhatian dunia tertuju pada Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global.

Pemerintah Jerman secara tegas menolak wacana pemberlakuan tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyebut ide tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima dalam hukum dan praktik internasional.

Dalam konferensi pers di Berlin, Rabu (15/4/2026), Wadephul menegaskan bahwa jalur laut internasional tidak boleh berada di bawah kendali sepihak negara tertentu, apalagi sampai dikenakan biaya.

“Tidak dapat diterima jika jalur laut seperti Selat Hormuz dikendalikan oleh negara tertentu dan dikenakan tarif. Kami menegaskan pentingnya pemulihan penuh kebebasan navigasi,” ujarnya.

Menurutnya, Selat Hormuz bukan hanya penting bagi negara-negara di kawasan Teluk Persia atau Asia, tetapi juga menjadi kepentingan global. Jalur ini menjadi salah satu titik paling vital dalam rantai pasok energi dunia.

Sebagai langkah lanjutan, Kanselir Jerman Friedrich Merz dijadwalkan melakukan kunjungan ke Prancis pada Jumat mendatang. Agenda tersebut berkaitan dengan konferensi internasional yang membahas keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Situasi semakin kompleks setelah Amerika Serikat mengambil langkah tegas. Sejak Senin (13/4/2026), Angkatan Laut AS mulai memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz.

Langkah ini berdampak besar, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur tersebut dikutip Antara.

Meski demikian, Washington menegaskan bahwa kapal non-Iran tetap diizinkan melintas tanpa hambatan, selama tidak membayar biaya apa pun kepada Teheran.

Di sisi lain, Iran hingga kini belum secara resmi memberlakukan tarif tersebut. Namun, wacana mengenai pungutan bagi kapal asing disebut-sebut tengah dibahas oleh otoritas setempat.

Perkembangan ini menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik krusial yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan energi global dalam waktu dekat.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru