Stellantis Uji Baterai Solid-State di Dodge Charger Daytona, Bisa Isi Daya 18 Menit


 Stellantis Uji Baterai Solid-State di Dodge Charger Daytona, Bisa Isi Daya 18 Menit Purwarupa mobil Dodge Charger Daytona yang digunakan dalam pengujian baterai solid-state. (Stellantis)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Perkembangan teknologi baterai kendaraan listrik terus melaju pesat. Salah satu langkah terbaru datang dari Stellantis yang mulai menguji baterai solid-state pada purwarupa mobil listrik Dodge Charger Daytona untuk mengetahui performanya dalam kondisi penggunaan nyata di jalan raya.

Kendaraan ini tidak dirancang untuk dipasarkan dalam waktu dekat, melainkan menjadi laboratorium berjalan yang digunakan untuk menguji dan mengkalibrasi teknologi baterai generasi baru tersebut. Melalui pengujian ini, Stellantis ingin memahami bagaimana sel baterai solid-state bekerja dalam berbagai kondisi berkendara sehari-hari.

Dalam proyek tersebut, Stellantis menggandeng perusahaan teknologi baterai asal Amerika Serikat, Factorial. Perusahaan ini juga mendapat dukungan investasi dari sejumlah raksasa otomotif dunia, termasuk Mercedes-Benz, Hyundai, dan Kia.

Purwarupa Dodge Charger Daytona yang digunakan dalam pengujian mengandalkan sel baterai solid-state khusus buatan Factorial. Teknologi ini dianggap sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan baterai lithium-ion konvensional yang saat ini mendominasi pasar kendaraan listrik.

Berbeda dengan baterai lithium-ion yang menggunakan elektrolit cair atau gel, baterai solid-state memakai elektrolit berbahan padat. Pendekatan ini memungkinkan penyimpanan energi yang lebih besar dalam ukuran baterai yang lebih ringkas dan bobot yang lebih ringan.

Keunggulan tersebut berpotensi membuat mobil listrik memiliki jarak tempuh lebih jauh tanpa harus menambah ukuran baterai secara signifikan. Selain itu, bobot kendaraan juga dapat ditekan sehingga efisiensi energi semakin meningkat.

Menurut Factorial, Sabtu (13/6/2026), sel baterai yang digunakan dalam pengujian memiliki kepadatan energi hingga 375 Wh/kg. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan sebagian besar baterai kendaraan listrik yang beredar di pasar saat ini.

Tak hanya menawarkan kapasitas energi lebih besar, baterai solid-state ini juga diklaim mampu mempercepat proses pengisian daya. Dalam pengujian, baterai dapat diisi dari 15 persen hingga 90 persen hanya dalam waktu sekitar 18 menit.

Keunggulan lain yang menjadi sorotan adalah kemampuannya bertahan pada suhu ekstrem. Baterai tersebut disebut tetap bekerja optimal pada suhu minus 30 derajat Celsius hingga 45 derajat Celsius tanpa mengalami penurunan performa yang berarti.

Meski demikian, Stellantis belum mengungkapkan kapasitas total baterai yang digunakan pada Dodge Charger Daytona maupun estimasi jarak tempuh kendaraan selama pengujian berlangsung.

Sebelumnya, teknologi baterai solid-state Factorial juga sempat diuji pada purwarupa sedan listrik Mercedes-Benz EQS yang telah dimodifikasi. Hasilnya cukup mengesankan. Mobil tersebut mampu menempuh jarak hingga 1.205 kilometer dalam satu kali pengisian daya.

Jarak tempuh tersebut jauh melampaui sebagian besar mobil listrik modern saat ini yang biasanya memerlukan setidaknya dua kali pengisian ulang untuk mencapai angka serupa. Bahkan setelah pengujian selesai, baterai masih menyisakan daya yang diperkirakan cukup untuk menempuh sekitar 137 kilometer lagi.

Melalui berbagai pengujian ini, Stellantis ingin mengetahui apakah baterai solid-state benar-benar siap menjadi penerus teknologi baterai yang saat ini digunakan secara luas, seperti lithium iron phosphate (LFP) dan nickel manganese cobalt (NMC).

Jika pengembangannya berjalan sesuai harapan, baterai solid-state berpotensi menjadi terobosan besar di industri kendaraan listrik berkat kombinasi keunggulan berupa jarak tempuh lebih panjang, pengisian daya lebih cepat, umur pakai lebih lama, dan tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan teknologi baterai saat ini.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Otomotif Terbaru