Loading
Paus Leo XIV merayakan Misa Paskah di Lapangan Santo Petrus di Vatikan pada 05 April 2026. ANTARA/Isabella Bonotto/Anadolu/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, melontarkan kritik tajam terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyinggung Pope Leo XIV.
Dalam wawancara dengan Radio J pada Minggu (19/4/2026), Barrot menilai komentar Trump tidak pantas dan bertentangan dengan nilai-nilai yang diemban oleh seorang Paus.
“Saya tidak memahami pernyataan tersebut dan tidak menganggapnya dapat diterima, karena misi Paus adalah menyerukan perdamaian dan persaudaraan di mana pun,” ujar Barrot.
Polemik ini bermula dari kritik Paus terhadap kebijakan Amerika Serikat terkait Iran. Paus menilai ancaman terhadap rakyat Iran tidak dapat dibenarkan dan menyerukan pendekatan damai dalam menyelesaikan konflik.
Pernyataan tersebut kemudian memicu respons keras dari Trump. Ia menyampaikan kritik terbuka terhadap Paus dan bahkan menyebut bahwa dirinya tidak membutuhkan sosok pemimpin agama yang menentang kebijakan pemerintahannya.
Trump juga membuat klaim kontroversial dengan mengatakan bahwa Paus tidak akan berada di Vatikan jika dirinya tidak menjabat di Gedung Putih.
Menanggapi hal tersebut, Paus Leo XIV memilih untuk tidak memperpanjang polemik secara terbuka. Ia menegaskan tidak akan terlibat dalam konflik verbal dengan Presiden AS, namun tetap berkomitmen menyuarakan perdamaian.
“Saya tidak akan terlibat dalam perselisihan publik, tetapi akan terus berbicara lantang menentang perang,” tegas Paus.
Ketegangan ini mencerminkan perbedaan pandangan antara pemimpin politik dan pemimpin spiritual dalam menyikapi isu global, khususnya terkait konflik internasional dan perdamaian dunia.