Loading
Trump-Xi Bertemu di Beijing, Ini 5 Kesepakatan dan Isu Krusial yang Dibahas. (Ilustrasi AI)
BEIJING, ARAHKITA.COM – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing menjadi perhatian dunia internasional. Di tengah hubungan yang selama bertahun-tahun diwarnai persaingan dagang, teknologi, hingga geopolitik, kedua negara kini mencoba membuka babak baru kerja sama yang lebih stabil.
Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, Trump dan Xi sepakat membangun hubungan AS-China yang “konstruktif dan berlandaskan stabilitas strategis.” Kesepakatan itu dinilai menjadi sinyal penting bahwa Washington dan Beijing mulai mencari titik keseimbangan baru di tengah rivalitas global yang semakin kompleks.
Dilaporkan dan dikutip CNBC.com, suasana pertemuan berlangsung hangat dengan berbagai gestur diplomatik yang menunjukkan upaya kedua negara memperbaiki komunikasi dan memperluas kerja sama di sejumlah sektor strategis.
Berikut lima poin penting dari pertemuan Trump-Xi di Beijing:
1. AS dan China Sepakat Bangun Hubungan yang Lebih Stabil
Xi Jinping menegaskan bahwa China dan Amerika Serikat perlu membangun hubungan bilateral yang lebih konstruktif dengan dasar stabilitas strategis jangka panjang. Menurut Beijing, kerangka hubungan baru ini akan menjadi pedoman kerja sama kedua negara dalam beberapa tahun ke depan.
Xi juga menekankan bahwa persaingan tetap akan ada, namun harus berjalan secara terukur dan tidak berkembang menjadi konflik terbuka. Pengamat menilai pendekatan ini menunjukkan adanya upaya menciptakan “stabilitas terkendali” di tengah rivalitas dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut.
2. Pertemuan Pra-KTT Disebut Berjalan Positif
Sebelum pertemuan puncak berlangsung di Beijing, delegasi perdagangan kedua negara lebih dulu bertemu di Korea Selatan. Pertemuan itu dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.
Xi menyebut hasil pertemuan tersebut “seimbang dan positif secara keseluruhan.” Ia juga menegaskan bahwa China tetap membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas dengan Amerika Serikat.
“Pintu keterbukaan China hanya akan terbuka lebih lebar,” kata Xi dalam pernyataannya.Kunjungan Trump kali ini juga diikuti sejumlah tokoh bisnis besar Amerika, termasuk Elon Musk dari Tesla serta Jensen Huang dari NVIDIA.
3. Kerja Sama Ekonomi hingga Pertanian Akan Diperluas
Dalam pembahasan bilateral, kedua negara juga sepakat memperkuat komunikasi diplomatik dan militer guna mencegah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Trump dan Xi turut membahas peluang memperluas akses pasar bagi perusahaan-perusahaan Amerika di China, sekaligus membuka peluang investasi China ke sektor industri di AS.
Selain itu, Washington meminta Beijing terus menekan aliran fentanyl ilegal ke Amerika Serikat serta meningkatkan pembelian produk pertanian asal AS.
Kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, dan pertanian disebut menjadi fokus utama dalam hubungan baru kedua negara.
4. China Tertarik Membeli Lebih Banyak Minyak AS
Isu energi global juga menjadi topik penting dalam pertemuan tersebut. Kedua pemimpin membahas situasi di Timur Tengah, termasuk pentingnya menjaga jalur distribusi energi internasional tetap aman.
Trump dan Xi sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka sebagai jalur vital perdagangan energi dunia.
China juga menyatakan ketertarikannya membeli lebih banyak minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan minyak mentah Timur Tengah.
Selain itu, kedua negara sama-sama menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
5. Taiwan Jadi Isu Paling Sensitif
Salah satu poin paling tajam dalam pertemuan tersebut muncul saat Xi Jinping membahas Taiwan. Ia menyebut isu Taiwan sebagai “persoalan terpenting” dalam hubungan AS-China.
Menurut Xi, penanganan isu Taiwan akan sangat menentukan masa depan hubungan kedua negara. Jika dikelola dengan baik, hubungan bilateral dapat tetap stabil. Namun jika salah langkah, risiko bentrokan hingga konflik terbuka bisa meningkat.
Pernyataan itu kembali menegaskan bahwa Taiwan masih menjadi titik paling sensitif dalam hubungan geopolitik antara Washington dan Beijing.