Loading
Foto ini, yang diambil pada 16 Mei 2026, menunjukkan bangunan-bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Tyre, Lebanon. ANTARA/XInhua/Ali Hashisho.
BEIRUT, ARAHKITA.COM – Serangan udara Israel yang menggempur sejumlah wilayah di Lebanon selatan sepanjang malam hingga Rabu (20/5/2026) menewaskan sedikitnya 29 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan puluhan orang lainnya juga mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan udara dilaporkan menghantam sejumlah kota di wilayah selatan Lebanon dengan target kawasan permukiman warga, area dekat rumah sakit pemerintah, hingga kendaraan di jalan raya.
Serangan paling mematikan terjadi di sebuah kota di Distrik Tyre, Kegubernuran Selatan, dekat perbatasan Israel. Sedikitnya 12 orang dilaporkan tewas dalam serangan itu, termasuk seorang warga negara Suriah.
Di tengah meningkatnya ketegangan, kelompok Hizbullah mengklaim telah terlibat bentrokan dengan pasukan Israel di dekat Kota Haddatha, Lebanon selatan.
“Hizbullah menargetkan kumpulan pasukan Israel di Lebanon selatan,” demikian pernyataan kelompok tersebut.
Pasukan Israel juga disebut melakukan operasi penghancuran besar-besaran di wilayah perbatasan antara desa Blida dan Mays al-Jabal yang memicu ledakan besar.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menegaskan bahwa jalur diplomasi dan negosiasi tetap menjadi satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik yang terus berlangsung.
“Senjata harus berada di bawah kendali eksklusif pasukan negara,” kata Nawaf Salam.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 3.073 orang dan melukai lebih dari 9.300 lainnya.
Dampak konflik juga dirasakan sektor kesehatan Lebanon. Dalam pidatonya di Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nasreddine mengatakan serangan Israel telah merusak sistem layanan kesehatan secara serius.
Menurut dia, sebanyak 116 tenaga kesehatan tewas, 16 rumah sakit rusak, 147 ambulans diserang, dan 45 pusat layanan kesehatan terpaksa ditutup sejak konflik kembali meningkat.
Meski gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah diberlakukan sejak April dan beberapa kali diperpanjang, kedua pihak masih terus saling melancarkan serangan di kawasan perbatasan.