Trump dan Khamenei Belum Sepakati Kerangka Kerja AS-Iran. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase krusial. Meski kerangka kerja kesepakatan antara kedua negara dikabarkan hampir selesai, Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei disebut belum memberikan persetujuan akhir.
Laporan surat kabar The Telegraph pada Senin (25/5/2026) menyebutkan bahwa rancangan umum kesepakatan sebenarnya sudah tersusun. Namun, keputusan final tetap berada di tangan kedua pemimpin negara tersebut.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa pembicaraan masih berlangsung intensif, terutama menyangkut isu strategis yang berdampak besar terhadap keamanan kawasan dan stabilitas energi global.
Di tengah proses negosiasi itu, negara-negara di kawasan Teluk Persia juga disebut mulai aktif mendorong tercapainya kesepakatan damai. Sumber regional yang dikutip The Telegraph menyebut para pemimpin kawasan meminta Washington menerima proposal gencatan senjata demi mencegah gejolak lebih luas di Timur Tengah.
Sebelumnya, laporan Fox News pada Minggu (24/5/2026) menyebut kesepakatan kerangka kerja AS-Iran telah mencapai sekitar 95 persen. Meski demikian, masih ada sejumlah poin sensitif yang belum menemukan titik temu.
Salah satu isu paling rumit adalah pembahasan mengenai Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Selain itu, negosiasi juga menyentuh persoalan cadangan material nuklir milik Teheran yang selama ini menjadi perhatian utama negara-negara Barat.
Ketidakpastian atas hasil perundingan ini turut menjadi perhatian pelaku ekonomi global. Pasalnya, setiap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga energi, rantai pasok internasional, hingga stabilitas perdagangan dunia.
Situasi memanas sendiri bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang dan memperburuk tensi geopolitik di kawasan.
Pada 8 April, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, harapan terciptanya perdamaian jangka panjang belum sepenuhnya terwujud setelah perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kepastian.
Walaupun belum ada pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali konflik terbuka, Amerika Serikat mulai menerapkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Langkah ini dinilai dapat meningkatkan tekanan ekonomi sekaligus memperbesar risiko gangguan terhadap distribusi energi global dikutip Antara.
Bagi pasar internasional, perkembangan hubungan AS-Iran bukan sekadar isu politik luar negeri. Stabilitas kawasan Timur Tengah memiliki pengaruh langsung terhadap keberlanjutan pasokan energi, transisi ekonomi hijau, dan arah investasi global di sektor energi bersih.
Ketika ketegangan geopolitik meningkat, banyak negara dipaksa mempercepat diversifikasi sumber energi demi mengurangi ketergantungan terhadap kawasan yang rawan konflik. Karena itu, keberhasilan atau kegagalan negosiasi AS-Iran diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah ekonomi dan energi dunia dalam beberapa bulan ke depan.