Loading
Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers di Washington. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengirimkan versi terbaru dari proposal perdamaian kepada Iran dengan sejumlah persyaratan yang lebih ketat. Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya Washington untuk mencapai kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri konflik dan meredakan ketegangan antara kedua negara.
Laporan harian The New York Times yang terbit Sabtu (30/5/2026) menyebutkan bahwa Trump telah merevisi beberapa bagian dalam rancangan perjanjian sebelum mengirimkannya kembali ke Teheran untuk dipelajari oleh pihak Iran. Namun, isi perubahan dalam dokumen tersebut belum diungkapkan secara rinci.
Menurut sejumlah pejabat yang mengetahui proses negosiasi tersebut, salah satu perhatian utama Trump berkaitan dengan kemungkinan pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan. Isu tersebut sejak lama menjadi perhatian Trump dan pernah menjadi kritiknya terhadap kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 yang dicapai pada era pemerintahan Presiden Barack Obama.
Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa Trump mulai menunjukkan ketidakpuasan terhadap lambatnya respons Iran atas berbagai proposal yang diajukan Amerika Serikat melalui jalur diplomasi tidak langsung. Dalam proses tersebut, sejumlah pihak ketiga, termasuk pejabat dari Pakistan, turut berperan sebagai perantara komunikasi.
Seorang pejabat yang dikutip The New York Times mengatakan bahwa revisi proposal itu sengaja dibuat untuk meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Teheran. Pemerintah AS berharap langkah tersebut dapat mendorong Iran menerima kerangka kesepakatan yang sebelumnya telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, untuk mendapatkan persetujuan.
Meski demikian, proses komunikasi dengan jajaran pimpinan tertinggi Iran disebut tidak mudah. Kondisi tersebut berpotensi memperlambat jalannya negosiasi, terutama jika masih diperlukan perubahan tambahan terhadap dokumen yang disebut sebagai nota kesepahaman tersebut.
Sementara itu, sejumlah isu yang lebih sensitif, termasuk masa depan program nuklir Iran, diperkirakan baru akan dibahas pada putaran negosiasi berikutnya.
Media Axios, mengutip pejabat Amerika Serikat, melaporkan bahwa Washington telah diberi informasi bahwa Iran kemungkinan membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk memberikan tanggapan resmi terhadap proposal terbaru tersebut.
Pejabat tersebut bahkan menggambarkan sulitnya proses komunikasi dengan menyebut bahwa para pengambil keputusan Iran berada di fasilitas bawah tanah dan tidak menggunakan sarana komunikasi elektronik yang umum digunakan.
Meski demikian, pemerintah AS tetap optimistis bahwa kesepakatan dapat tercapai.
“Akan ada kesepakatan. Tinggal menunggu seberapa cepat prosesnya berlangsung. Bisa dalam hitungan hari, bisa juga lebih lama. Kami berharap ada perkembangan dalam waktu dekat,” kata pejabat tersebut dilansir Antara.
Di tengah perkembangan negosiasi itu, Trump pada Jumat (29/5/2026) menggelar pertemuan tertutup selama sekitar dua jam bersama para penasihat seniornya di Ruang Situasi Gedung Putih. Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah diplomatik yang sedang ditempuh untuk mengakhiri konflik.
Namun hingga pertemuan berakhir, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi ataupun mengumumkan hasil pembahasan kepada publik.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung dinamis. Dunia kini menantikan apakah Teheran akan menerima proposal revisi tersebut atau justru meminta negosiasi lanjutan sebelum kesepakatan dapat dicapai.