AS dan Iran Teken MoU Secara Elektronik untuk Akhiri Perang, Kesepakatan Resmi Dijadwalkan di Swiss


 AS dan Iran Teken MoU Secara Elektronik untuk Akhiri Perang, Kesepakatan Resmi Dijadwalkan di Swiss AS dan Iran Teken MoU Secara Elektronik untuk Akhiri Perang, Kesepakatan Resmi Dijadwalkan di Swiss. (Ilustrasi AI)

WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) secara elektronik sebagai langkah awal untuk mengakhiri konflik yang selama ini mengguncang kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan sejumlah media Amerika Serikat pada Senin (15/6/2026), dokumen tersebut ditandatangani secara virtual oleh Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Kesepakatan ini menjadi perkembangan penting di tengah upaya meredakan ketegangan yang telah memicu krisis kemanusiaan, ketidakstabilan regional, hingga gangguan terhadap pasar energi global.

Seorang pejabat senior AS yang dikutip media setempat menyebutkan bahwa isi lengkap MoU tersebut diperkirakan akan diumumkan dalam 24 hingga 48 jam ke depan. Sementara itu, penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.

Sinyal meredanya konflik juga terlihat dari pernyataan Presiden Trump melalui platform Truth Social. Ia mengungkapkan bahwa kapal-kapal pengangkut minyak mulai kembali bergerak keluar dari Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Sehari sebelumnya, Minggu (14/6/2026), Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran telah tercapai. Pernyataan itu muncul tidak lama setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan kabar serupa melalui media sosial X.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran sebelumnya mencapai titik kritis setelah serangan besar-besaran yang dilancarkan pada 28 Februari. Peristiwa tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, dan memicu eskalasi yang mengubah peta keamanan kawasan Timur Tengah dikutip Antara.

Sejak pecahnya konflik, ribuan korban jiwa dilaporkan berjatuhan. Selain dampak kemanusiaan yang besar, perang tersebut juga menimbulkan gejolak di pasar energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Dengan adanya MoU ini, perhatian dunia kini tertuju pada detail kesepakatan yang akan segera dipublikasikan. Banyak pihak berharap langkah tersebut dapat menjadi awal dari proses perdamaian yang lebih permanen serta membuka jalan bagi pemulihan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru