Loading
Aneka takjil di salah satu kios di kawasan Jalan Sabang Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026). (ANTARA/Pamela Sakina)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kebiasaan menyantap gorengan saat berbuka puasa memang menggoda. Namun, dietisien dari RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, mengingatkan bahwa konsumsi gorengan berlebihan bisa berdampak serius bagi kesehatan, terutama setelah tubuh berpuasa lebih dari 12 jam.
“Makan terlalu banyak gorengan pada saat berbuka atau sahur dapat memberatkan kerja organ tubuh,” ujar Yesi, Sabtu (21/2/2026) seperti yang dikutip dari Antara.
Menurutnya, asupan lemak berlebih dari gorengan membuat sejumlah organ vital bekerja ekstra keras. Organ pertama yang terdampak adalah hati. Lemak yang menumpuk di hati berisiko memicu perlemakan hati, yang dalam jangka panjang bisa berkembang menjadi peradangan, sirosis, bahkan kanker hati.
Tak hanya itu, kebiasaan mengonsumsi gorengan juga meningkatkan risiko gangguan pada jantung dan pembuluh darah. “Asupan lemak berlebih dapat meningkatkan kolesterol dalam darah, sehingga memicu penyumbatan dan berisiko menyebabkan aterosklerosis maupun penyakit jantung koroner,” jelas Yesi.
Organ lain yang turut terdampak adalah pankreas dan empedu. Lemak berlebih dapat memicu resistensi insulin yang meningkatkan risiko diabetes. Ginjal pun bisa terbebani karena harus bekerja lebih keras menyaring zat sisa metabolisme, yang dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan penyakit ginjal kronik.
Yesi menambahkan, lemak yang menumpuk di area perut juga dapat menekan diafragma dan memengaruhi fungsi paru-paru. “Kondisi ini bisa menyebabkan sesak napas. Selain itu, sistem reproduksi juga dapat terganggu akibat ketidakseimbangan hormon,” katanya.
Dari sisi pencernaan, berbuka dengan gorengan membuat saluran cerna yang sebelumnya beristirahat dipaksa bekerja berat secara tiba-tiba. Hal ini dapat memicu gangguan lambung dan rasa tidak nyaman.
Bagi individu dengan berat badan normal, Yesi menyarankan konsumsi gorengan maksimal dua buah per hari, dengan catatan tidak ada tambahan makanan bersantan atau digoreng dalam menu lainnya.
“Apabila terjadi terus-menerus dan tidak diimbangi asupan serat serta aktivitas fisik, maka risiko obesitas, penyakit jantung, stroke, perlemakan hati, diabetes melitus hingga kanker bisa meningkat,” tegasnya.
Sementara bagi mereka yang mengalami kegemukan atau obesitas, konsumsi gorengan sebaiknya dihindari. Jika ingin mengonsumsi, cukup satu kali dalam seminggu. Ia juga menekankan pentingnya menggunakan minyak baru, bukan minyak bekas pakai yang dapat meningkatkan risiko radikal bebas.
Untuk menjaga metabolisme tubuh tetap optimal selama Ramadhan, Yesi menyarankan berbuka puasa diawali dengan air putih. Setelah itu, pilih takjil yang mudah dicerna dan mengandung elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.
“Kurma, air kelapa, buah segar, atau salad buah bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibanding gorengan,” ujarnya.
Dengan pola makan yang lebih bijak, ibadah puasa tetap lancar tanpa harus mengorbankan kesehatan tubuh.
-