Loading
Ilustrasi Seorang pria menahan rasa sakit pada bagian perut. (Pixabay)
Berikut artikel hasil penulisan ulang dengan gaya bahasa populer, SEO friendly, bukan saduran, serta dilengkapi kutipan narasumber, meta description, keyword, dan pilihan judul:
Pilihan Judul:
CANBERRA, ARAHKITA.COM – Upaya memblokir enzim seluler Caspase-2 yang selama ini diyakini berpotensi melindungi tubuh dari penyakit perlemakan hati ternyata menyimpan risiko serius. Penelitian terbaru dari Australia menunjukkan bahwa pendekatan tersebut justru dapat meningkatkan peluang terjadinya kerusakan hati kronis hingga kanker hati, terutama pada usia lanjut.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances dan diumumkan secara resmi oleh Universitas Adelaide, Selasa (13/1/2026). Para peneliti menemukan bahwa hilangnya fungsi enzim Caspase-2 memicu pertumbuhan sel hati yang tidak normal, disertai peradangan berkepanjangan, fibrosis, serta peningkatan signifikan risiko kanker hati.
Peneliti utama, Loretta Dorstyn dari Center for Cancer Biology, menjelaskan bahwa Caspase-2 memiliki peran ganda yang sangat krusial. Selain menjaga stabilitas genetik sel hati, enzim ini juga berfungsi mengatur kadar lemak dalam organ tersebut.
“Sel hati secara alami memiliki salinan materi genetik ekstra yang disebut poliploidi. Kondisi ini sebenarnya membantu hati menghadapi stres. Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tanpa Caspase-2, tingkat poliploidi yang terlalu tinggi justru menjadi pemicu kerusakan serius,” ujar Dorstyn.
Dalam studi tersebut, tikus yang tidak memiliki enzim Caspase-2 atau memiliki versi enzim yang tidak aktif menunjukkan sel hati berukuran jauh lebih besar dari normal. Kondisi ini disertai akumulasi kerusakan genetik dan selular dalam jumlah tinggi.
“Seiring waktu, hewan-hewan ini mengalami peradangan hati kronis dengan ciri-ciri yang menyerupai hepatitis, seperti jaringan parut, kerusakan oksidatif, dan kematian sel yang berkaitan dengan proses inflamasi,” kata Dorstyn.
Penelitian juga mencatat bahwa risiko kanker meningkat drastis pada tikus yang telah menua. Tikus lanjut usia yang kekurangan Caspase-2 aktif mengalami tumor hati spontan hingga empat kali lebih banyak dibandingkan tikus normal. Jenis kanker yang muncul memiliki karakteristik karsinoma hepatoseluler, salah satu bentuk kanker hati paling umum dan mematikan.
Menurut Dorstyn, hasil ini mematahkan anggapan bahwa penghambatan Caspase-2 selalu memberikan manfaat. “Enzim ini ternyata sangat penting untuk membersihkan sel-sel hati yang rusak seiring bertambahnya usia. Tanpa Caspase-2, sel-sel abnormal tersebut menumpuk dan pada akhirnya dapat memicu kanker,” ujarnya.
Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini menjadi peringatan penting bagi pengembangan obat di masa depan, khususnya terapi yang menargetkan jalur Caspase-2, agar dilakukan dengan kehati-hatian dan pertimbangan jangka panjang terhadap risiko kesehatan hati.