Meme ‘Young 40s’ Viral di Korea: iPhone, Air Jordan, dan ‘Dosa‘ Terlihat Muda


 Meme ‘Young 40s’ Viral di Korea: iPhone, Air Jordan, dan ‘Dosa‘ Terlihat Muda Ji mengatakan bahwa ia menjadi lebih sadar diri saat berinteraksi dengan rekan kerja yang lebih muda. (Instagram/@detailance/bbc.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ji Seung-ryeol, 41 tahun, punya satu kebiasaan yang menurutnya wajar—bahkan menyenangkan: memotret outfit terbaiknya di depan cermin, lalu mengunggahnya ke Instagram. Buat Ji, fashion bukan sekadar gaya. Itu cara ia mengekspresikan diri. Semacam “hadiah kecil” untuk diri sendiri setelah bertahun-tahun bekerja keras.

Tapi belakangan ini, Ji mendadak merasa seperti orang yang salah kostum.

Bukan karena bajunya norak. Bukan karena ia menabrak tren. Melainkan karena internet tiba-tiba punya label baru untuk orang sepertinya: “Young 40s”—generasi 40-an yang dianggap sok muda, berusaha keras tampil kekinian, dan menolak menerima kenyataan usia.

Label ini bukan sekadar candaan biasa. Di Korea Selatan, meme tersebut menyebar cepat dan menyengat: karikatur AI pria paruh baya dengan pakaian kasual “anak muda”, menggenggam iPhone, memakai item streetwear yang identik dengan generasi Gen Z atau milenial muda.

Dan yang membuat Ji makin kesal, banyak meme ikut “menyeret” barang-barang favoritnya: Nike Air Jordan, kaos Stüssy, dan gaya streetwear yang sudah ia sukai sejak lama.

“Aku cuma membeli dan memakai barang yang dari dulu memang kusuka,” kata Ji. “Sekarang aku mampu, jadi aku beli. Tapi kenapa ini jadi bahan serangan?”

iPhone yang Memantik Ejekan

Menariknya, pemicu besar gelombang ejekan ini bukan sepatu atau kaos—melainkan iPhone.

Setelah peluncuran iPhone terbaru pada September lalu, ada perubahan citra yang cukup menggelitik: smartphone yang selama ini dianggap “anak muda banget” mendadak dipelesetkan sebagai simbol gaya norak orang 40-an yang ingin terlihat muda.

Menurut beberapa anak Gen Z, “Young 40s” adalah tipe orang yang “berusaha terlalu keras untuk tampak muda” dan seperti “menolak kenyataan bahwa waktu sudah berjalan.”

Data pun sering dijadikan amunisi. Dalam setahun terakhir, pangsa Apple turun di kalangan Gen Z namun naik di kelompok usia 40-an, menurut riset yang dikutip BBC. Di ruang digital, perubahan ini dibaca bukan sebagai tren biasa—melainkan sebagai bahan komedi kolektif.

Dan ini bukan pertama kalinya perang ejekan antargenerasi terjadi.

Beberapa tahun lalu, milenial yang lahir awal 1980-an sempat kena cap lain: “Geriatric Millennial” (milenial uzur). Mereka ditertawakan karena selera humor yang dianggap “ketinggalan zaman”: emoji tertawa-berurai-air-mata, “adulting”, sampai gestur-gestur yang dinilai cringe.

Kini, giliran generasi 40-an yang jadi target.

Korea, Usia, dan Hierarki Sosial yang Sensitif

Di Korea Selatan, usia bukan sekadar angka. Ia menentukan bahasa, sikap tubuh, hingga etika sosial. Selisih satu tahun saja bisa mengubah cara menyapa dan posisi dalam percakapan.

Usia juga kerap menjadi kunci dalam suasana kumpul-kumpul: siapa yang lebih dulu menuang soju, siapa yang harus memalingkan wajah saat minum, bahkan siapa yang “boleh” bercanda sejauh apa.

Karena itu, meme “Young 40s” sebenarnya lebih dari sekadar olok-olok outfit. Ia juga menyentil budaya senioritas—penghormatan yang kadang terasa seperti kewajiban yang tak bisa ditawar.

Anak muda Korea punya istilah terkenal untuk orang tua yang dianggap menggurui dan kaku: kkondae. Sosok yang merasa selalu benar, merasa lebih berhak didengar, dan gemar “mengatur atas nama pengalaman.”

Di sinilah gesekan makin kuat. Media sosial membuat semua generasi berkumpul di ruang yang sama: melihat tren yang sama, mengomentari hal yang sama, dan—pada akhirnya—menghakimi selera satu sama lain secara terbuka.

Dari Istilah Marketing Jadi Senjata Sarkasme

Sebenarnya, “Young 40” bukan istilah hinaan dari awal. Di era 2010-an, kata ini justru muncul di dunia pemasaran: menggambarkan konsumen usia 40-an yang tetap muda, sehat, aktif, melek teknologi, dan punya daya beli kuat.

Mereka dianggap “Market Emas”

Namun internet bekerja dengan cara yang brutal. Istilah itu berubah rasa. Dalam setahun terakhir, “Young 40” disebut online ratusan ribu kali dan banyak konteksnya bernada negatif: disandingkan dengan kata seperti “tua”, “menjijikkan”, atau “memalukan”.

Ada juga turunan yang lebih tajam: “Sweet Young 40”, label sarkastik untuk pria paruh baya yang dianggap “genit” terhadap perempuan jauh lebih muda.

Sekali label semacam itu viral, orang-orang seperti Ji tidak lagi dinilai sebagai individu—melainkan sebagai stereotipe yang siap ditertawakan.

Ejekan yang Lebih Dalam: soal Kelas Sosial dan Rasa Iri

Bagi sebagian anak muda Korea, “Young 40s” bukan hanya soal fashion. Ada lapisan lain yang jauh lebih sensitif: kesenjangan kesempatan.

Generasi yang kini berusia 40-an dianggap mengalami masa yang lebih “bersahabat”: ketika ekonomi stabil, harga rumah belum sekejam hari ini, dan pintu karier terasa lebih mungkin dibuka.

Sementara Gen Z dan milenial muda tumbuh dalam realitas berbeda: harga rumah melambung, kompetisi kerja ketat, upah tak selalu sebanding biaya hidup, serta masa depan yang terasa makin mahal dikutip dari bbc.com.

Di mata mereka, “Young 40s” bisa terlihat seperti simbol generasi yang lebih dulu menikmati “masa emas”—lalu tetap ingin ikut panggung muda, ikut tren, ikut dianggap keren.

Itulah mengapa ejekannya terasa begitu bertenaga: bukan cuma menertawakan selera berpakaian, tapi juga menyindir privilege.

Namun Ji merasa narasi itu tidak sepenuhnya adil.

Ia mengingat masa remajanya saat krisis finansial Asia menghantam. Ia masuk dunia kerja ketika pasar sedang keras. Ia sampai mengirim puluhan lamaran demi satu pekerjaan. Ji menyebut generasinya sebagai generasi yang tidak banyak punya ruang untuk “bersenang-senang” ketika muda—dan baru bisa menikmati hidup ketika dewasa.

“Kami baru bisa membeli hal-hal yang dulu cuma bisa kami lihat,” kira-kira begitu maksudnya.

Generasi “Terjepit” yang Tadi Serba Salah

Di kantor, Ji dan banyak orang seusianya sering berada dalam posisi unik: diapit dua dunia.Di atas mereka, ada generasi yang terbiasa dengan sistem hierarkis: patuh, jalankan perintah, jangan banyak bertanya. Di bawah mereka, ada generasi yang lebih berani mempertanyakan: “Kenapa harus begitu?”

Mereka yang berusia 40-an ini akhirnya merasa jadi jembatan—namun jembatan yang juga mudah disalahkan.

Dulu, menjadi penghubung antargenerasi mungkin dianggap kemampuan penting. Tapi sekarang, Ji merasa lebih waspada. Ia takut dicap kkondae. Ia takut terlihat “sok muda”. Ia takut salah bicara.

Akhirnya, ia memilih mengurangi acara minum bersama rekan kerja, membatasi obrolan, dan menjaga jarak sosial—bukan karena benci, melainkan karena cemas.Di sisi lain, seorang perempuan modis bernama Kang (41 tahun) melihat fenomena ini dengan kacamata yang lebih lembut.

Menurutnya, inti dari meme “Young 40s” sebenarnya sederhana: kerinduan manusia pada masa muda.

Seiring usia berjalan, keinginan untuk tetap terlihat muda adalah hal yang sangat wajar—dan pada dasarnya, dimiliki oleh semua generasi.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru