Loading
“Terbang Pulang/Flying Home” karya Dyan Anggraini, 2018, cat minyak dan pensil di atas kanvas berkisah tentang Putri Manohara.(Foto: Galnas)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kisah hidup Putri Manohara telah menarik perhatian perupa Dyan Anggraini. Maka, kisah itu pun ia tuangkan dalam karya lukisannya.
Lukisan Dyan itu bertajuk “Terbang Pulang/Flying Home” (2018), menggunakan cat minyak dan pensil di atas kanvas berukuran 150 x 250 cm. Lukisan ini termasuk salah satu dari 37 karya dua dan tiga dimensinya yang dipamerkan di Galeri Nasional pada 20 Februari – 5 Maret 2018 dengan tema “Perempuan (di) Borobudur”. Pameran ini digelar oleh Galnas bekerja sama dengan dyanartstudio.
Pameran ini dibuka oleh artis, sutradara dan produser film Nia Dinata, Selasa (20/2/2018) dan dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo. Dalam pameran ini, Dyan berkolaborasi sastrawan dan dramawan Landung Simatupang. Pada acara pembukaa, Landung membaca puisi-pusinya yang dibuat untuk karya-karya Dyan.
Putri Manohara yang dihadirkan dalam kanvas Dyan tentu bukan Manohara yang artis itu yang sempat jadi perbincangan. Dyan mendapat inspirasinya dari panel relief yang ada di Borobudur, yaitu panel relief Avandhana.
Landung mengemukakan, dalam rangkaian relief Avandhana, Dyan dan dirinya menjumpai sosok kinnari bernama Manohara yang diperistri Pangeran Sudhana dari Kerajaan Pancala Utara.
Kinnari adalah makhluk perempuan dari dunia atas, bertubuh burung dan berkepala manusia, yang punya kesaktian mengubah wujud menjadi manusia sepenuhnya. Manohara adalah putri seorang raja (kinnara, pria).
Penderitaannya dan bahaya yang mengancam jiwanya di Pancala Utara memaksanya terbang pulang ke dunia atas meninggalkan suaminya. Tapi berkat kesetiaannya dan cinta sejati suaminya kedua sejoli itu bersatu kembali, pulang ke kerajaan Pancala Utara. Pangeran Sudhana naik tahta dan mempersatukan Pancala Utara dan Selatan.
Perjumpaan Putri Manohara dan Pangeran Sudhana terjadi ketika Putri Manohara dipersembahkan oleh Halaka kepada sang Pangeran. Halaka adalah seorang pemburu yang berhasil menangkap putri Kinnari itu dengan jerat ketika sedang mandi di suatu telaga, sedangkan para pengiringnya yang ketakutan berhasil meloloskan diri, kembali ke dunia atas.
“Perempuan itu yang dihasratkan, yang dijerat, yang dipersembahkan. Inspirasi kesetiaan dan ketabahan,” kata Landung.
Kolaborasi Dyan dan Landung dimulai tiga tahun silam untuk menanggapi relief-relief yang ada di Candi Borobudur. Namun rencana tersebut baru mulai diwujudkan setahun lalu. Dyan menggarap topik dan wujud. Dan ketika penggarapan sudah selesai, Landung menanggapi dengan puisi atau prosa lirik.
Pada gilirannya, puisi itu dibaca oleh Dyan sebagai semacam bekal untuk menyelesaikan karyanya, dan ada yang ditransformasikan dengan tulisan tangan Dyan sehingga menjadi elemen rupa dalam karyanya.
Suwarno Wisetrotomo yang menjadi kurator pameran ini mengungkapkan, Dyan dan Landung tidak hanya menghadirkan perempuan-perempuan yang ada dalam panel-panel relief Candi Borobudur, tetapi juga di sekitar candi.
“Di luar sekitaran candi, di kehidupan sehari-hari hingga kini, para perempuan terus menjadi sosok utama dalam aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi. Dyan melihat dari dekat para perempuan ini berikut peran-peran yang dimainkan. Seringkali, para perempuan menanggung beban sosial-ekonomi melampaui kemampuannya. Namun demikian, para perempuan selalu tampak tangguh,” kata Suwarno.
Para perempuan Klipoh, sebuah desa yang berjarak beberapa jengkal dari situs candi Borobudur adalah contoh nyata tentang ketangguhan itu. Selain itu, terdapat para perempuan lainnya di sekitar area industri pariwisata, menyunggi nasib yang kurang lebih sama. Tampak muram dan terasa getir.
Menurut Suwarno, Dyan mencermati bahwa relief di Borobudur sesungguhnya menempatkan posisi perempuan menjadi sosok sentral, baik dalam wujud dan perannya. Hal itu kemudian ia angkat lewat karya-karyanya yang kini dipamerkan.
Pameran seni rupa karya Dyan Anggraini dan puisi/prosa lirik karya Landung, kata Suwarno, merupakan kolaborasi yang menggugah. Dua seniman dengan disiplin yang berbeda, saling mengisi dan melengkapi. Problem rupa bisa dilengkapi oleh tradisi literasi. Demikian pula sebaliknya, kata-kata bisa dilengkapi oleh rupa, warna, dan bentuk.
Karya-karya seni rupa Dyan Anggraini dan puisi/prosa lirik Landung Simatupang merupakan gugatan senyap mewakili para perempuan yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi,” tegas Suwarno.
Dyan Anggraini mulai muncul di panggung seni rupa Indonesia pada paruh kedua tahun 1970-an. Ia merupakan alumnus Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI Yogyakarta. Pada tahun 1977-2017, Dyan telah mengambil bagian dalam sekurangnya 141 pameran bersama di berbagai kota di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Sebelum purna tugas sebagai pegawai negeri, ia sempat menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Yogyakarta periode 2004 - 2011.
Landung Simatupang adalah penyair, penerjemah, aktor dan sutradara teater, serta pemain film. Lulusan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada ini pernah menjadi Tokoh Seni Tempo 2013 bidang Seni Pertunjukan untuk pergelaran karyanya tentang Diponegoro Sang Pangeran di Karesidenan. Ia pernah jadi Nomine Peran Pendukung Pria Terbaik FFI 2011. (Willy Hangguman)