Fransiscus Go saat berdiskusi dengan Pater Fransiskus Ceunfin, SVD (Wakil Provinsial SVD Ende) dan Pater Yanus Lobo, SVD (Wakil Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero), Minggu (24/3/2024). (rakyatntt/RobertKadang)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Masalah seputar pendidikan, kesehatan, dan kasus perdagangan merupakan topik diskusi hangat diperbincangkan Fransiscus Go yang biasa disapa Frans Go dengan para Pastor dan Frater di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero yang kini resmi berubah nama menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif atau IFTK Ledalero pada Minggu (24/3/2024). Para Pater dan Frater yang hadir adalah Pater Fransiskus Ceunfin, SVD (Wakil Provinsial SVD Ende), dan Pater Yanus Lobo, SVD (Wakil Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero).
Menurut Frans Go, persoalan ini bisa teratasi jika pendidikan NTT dibenahi. “Peningkatan sumber daya manusia NTT agar berdaya saing di level manapun, sangat dibutuhkan. Kita harapkan anak NTT bisa melanjutkan studinya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tapi kalau tamat SMA saja, kita usahakan dia ikut pendidikan vokasi supaya skill atau keterampilan yang diperoleh jadi bekal untuk kehidupan dia selanjutnya,” kata Frans Go.
Menurut pengusaha asal Timor ini, ada begitu banyak pendidikan vokasi yang bisa jadi pilihan. Misalnya, kata Frans Go, menjadi teknisi AC, montir perbengkelan, usaha catering, pelayan di kapal pesiar, jadi pekerja rumah tangga yang profesional dan lain sebagainya.
Baca juga:
Frans Go Dukung UMKM Sambal Asett di Soe- NTT, Siap Kolaborasi Nasional bersama Sayur Kendal“Pendidikan NTT masih perlu dibenahi, supaya berdaya saing. Perdagangan orang masih marak di NTT untuk dipekerjakan secara ilegal dengan upah yang minim, bukti masih rendahnya pendidikan kita. Kalau pendidikan kita sudah bisa diandalkan, pasti anak NTT tidak mau diperdagangkan,” tandas Frans Go di hadapan para Pater dan Frater.
Karena itu, CEO GMT Institute dan Direktur Yayasan Felix Maria Go ini berharap, peran gereja sangat penting untuk ikut mengedukasi masyarakat NTT. “Peran gereja sangat penting. Kasihan, banyak pekerja asal NTT yang terlibat masalah di luar negeri, karena ketidak-tahuan mereka soal regulasi. Mereka hanya tahu akan dipekerjan dan diberi upah. Padahal, menjadi tenaga kerja ilegal sangat beresiko. Mereka-mereka inilah yang banyak disiksa bahkan meninggal karena diperlakukan secara tidak manusiawi,” pungkas Frans Go.
Bertemu Nelayan
Jelang berbuka puasa, Minggu (24/3/2024), Frans Go dan tim dijamu secara adat oleh komunitas nelayan Maumere di sebuah resto. Di sela-sela acara buka puasa bersama, para nelayan antusias menanyakan berbagai hal kepada Frans Go. Mulai dari keberadaan mereka sebagai komunitas nelayan yang perlu bantuan modal usaha, lalu partai pengusung yang bakal digunakan Frans Go, hingga calon pendampingnya. Namun semua pertanyaan itu dijawab taktis Frans Go dengan mengatakan, dirinya baru pada tahapan silaturahmi.
“Semua itu nantinya akan berproses. Untuk saat ini saya datang silaturahmi, mencari saudara dan teman saya di Maumere. Terima kasih atas dukungan bapak ibu basodara semua,” ujar Frans Go.