Loading
Tim SAR gabungan mencari keberadaan jasad Divan, korban longsoran tebing Bukit Aek Matauli yang berdampingan dengan Perumahan Pandan Permai, Sibuluan Indah, Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Sabtu (6/12/2025) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo
TAPANULI TENGAH, ARAHKITA.COM — Warga Pandan, Tapanuli Tengah, masih terpukul dengan tragedi memilukan yang menimpa Divan Simangunsong (21). Remaja ini dikenal baik, dan beberapa saksi menyebut detik-detik terakhirnya begitu mengharukan—bahkan membuat banyak orang terdiam.
Bencana longsor itu terjadi pada Selasa (25/11/2025) pukul 09.30 WIB, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama lima hari empat malam tanpa henti. Material dari Bukit Aek Matauli—termasuk batu berdiameter dua meter dan batang kayu besar—meluncur deras ke permukiman warga.
Menurut kesaksian Pindo Pasaribu, tetangga korban, Divan sebenarnya sudah berhasil keluar dari rumah bersama keluarga dan ikut mencari tempat aman. Namun setelah memastikan orang tuanya selamat, ia justru berbalik arah dan kembali masuk ke rumah.
Baca juga:
Bukan Longsor Susulan, Tim SAR Bandung Jelaskan Fakta Video Viral Pergerakan Tanah di PasirlanguTujuannya sederhana tapi mulia: memastikan barang-barang penting milik ayahnya yang terkena stroke tidak tertinggal.
Tetapi nasib berkata lain. Saat Divan kembali ke dalam rumah, longsor susulan yang lebih besar datang tanpa memberi waktu sedikit pun untuk menyelamatkan diri.
“Warga sempat menarik dia, tapi kakinya jatuh ke selokan. Bukit sudah runtuh lagi. Semua orang panik,” tutur Pindo.
Ia juga mengingat jelas pesan terakhir Divan sebelum berlari kembali ke arah rumah. “Pergilah bapak mamak. Cari tempat aman. Saya nanti menyusul,” begitu kata Divan—yang kini menjadi kalimat terakhir yang diingat keluarga.
Runtuhan dari sisi tenggara Bukit Aek Matauli itu menimbun belasan rumah warga dan menyisakan jurang raksasa dengan kemiringan sekitar 45 derajat.
Kepala Kantor SAR Nias, Putu Arga Sujarwadi, mengungkapkan bahwa hingga Sabtu pagi, total korban meninggal akibat bencana tersebut mencapai 115 orang, sementara 594 orang selamat dan 169 orang masih hilang.
Tim gabungan masih terus bekerja tanpa henti memasuki hari ke-12 pencarian. Upaya menemukan jasad Divan pun dilakukan dengan menggali material longsor sedalam lebih dari tujuh meter menggunakan ekskavator.
Sementara itu, kedua orang tua Divan telah dievakuasi ke lokasi pengungsian di bawah pendampingan petugas gabungan. Adik perempuannya juga tengah menjalani pemeriksaan medis di Kapal Bantu Rumah Sakit KRI dr. Radjiman.
Tragedi ini memunculkan duka mendalam di tengah masyarakat Tapanuli Tengah, sekaligus mengingatkan bahwa di balik bencana, selalu ada kisah keberanian yang tak pernah akan dilupakan.