Survei Sun Life: Pensiun di Indonesia Terbelah antara Pilihan dan Keterpaksaan


  • Selasa, 10 Februari 2026 | 23:05
  • | News
 Survei Sun Life: Pensiun di Indonesia Terbelah antara Pilihan dan Keterpaksaan Ilustrasi - Pasangan pensiunan. (Freepik)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Masa pensiun bagi banyak orang Indonesia ternyata memiliki dua wajah berbeda. Ada kelompok yang tetap bekerja karena pilihan—demi aktualisasi diri dan menjaga produktivitas. Namun ada pula yang terpaksa menunda pensiun karena tekanan kebutuhan ekonomi. Gambaran ini terungkap dalam survei terbaru Sun Life bertajuk Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide.

Hasil riset menunjukkan, 77 persen responden memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun. Sebagian mengaku melakukannya demi rasa bermakna dan koneksi sosial, tetapi mayoritas—sekitar 71 persen—mengaku membutuhkan penghasilan tambahan untuk menopang hidup sehari-hari.

Temuan ini muncul di tengah perubahan demografi Indonesia. Data ESCAP 2023 mencatat, penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta jiwa dan diproyeksikan melonjak menjadi 64,9 juta jiwa pada 2050. Lonjakan populasi lansia ini berpotensi memperbesar tantangan ekonomi jika tidak diimbangi perencanaan pensiun yang matang.

Dua Kelompok, Dua Realitas

Sun Life mengelompokkan responden ke dalam dua profil besar. Pertama adalah “Gold Star Planners”—mereka yang sudah menyiapkan masa pensiun dengan baik. Bagi kelompok ini, bekerja lebih lama merupakan pilihan untuk tetap aktif, bukan keharusan. Sebanyak 83 persen menikmati aspek sosial dari pekerjaan, dan hampir setengahnya menyambut pensiun dengan optimisme.

Sebaliknya, kelompok “Stalled Starters” masih berkutat dengan ketidakpastian. Banyak dari mereka menunda pensiun demi membiayai kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan anak. Sekitar 43 persen mengaku terpaksa tetap bekerja karena beban finansial belum selesai.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menilai perbedaan ini menunjukkan pentingnya perencanaan sejak dini.

“Bagi yang siap, bekerja lebih lama adalah pilihan yang memberi kebebasan. Namun bagi sebagian lain, itu adalah konsekuensi tekanan keuangan. Perencanaan pensiun yang komprehensif akan menentukan realitas mana yang akhirnya dijalani,” ujarnya.

AI Naik Daun, tapi Risiko Mengintai

Hal menarik lain dari survei ini adalah melonjaknya penggunaan generative AI sebagai sumber informasi keuangan. Angkanya naik lebih dari dua kali lipat, dari 13 persen menjadi 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

Di sisi lain, minat berkonsultasi dengan penasihat profesional justru menurun. Konsultasi melalui bank turun dari 40 persen menjadi 31 persen, sementara penggunaan jasa penasihat independen merosot dari 44 persen ke 31 persen.

Menurut Albertus, AI memang memudahkan akses informasi, tetapi belum bisa menggantikan sentuhan personal.“AI dapat menjadi langkah awal, namun sering kali kurang konteks dan personalisasi. Keputusan pensiun tetap membutuhkan panduan ahli agar sesuai tujuan hidup masing-masing,” tegasnya.

Optimisme Ditentukan Keamanan Finansial

Bagi responden yang menantikan pensiun, keamanan finansial (60%) menjadi sumber optimisme utama, disusul stabilitas hidup (46%). Sebaliknya, mereka yang cemas menghadapi pensiun khawatir tak mampu mendukung keluarga (44%) dan merasa tidak aman secara ekonomi (37%).

Sayangnya, budaya menunda masih kuat. Sekitar 24 persen responden belum membuat rencana pensiun sama sekali, dan 34 persen baru menyusunnya dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Tak heran hanya 38 persen yang merasa benar-benar percaya diri dengan masa depannya.

Tekanan juga makin berat bagi generasi sandwich yang harus menanggung orang tua sekaligus anak. Kondisi ini membuat 40 persen menurunkan ekspektasi gaya hidup, sementara 23 persen memilih menunda pensiun.

Kesehatan, Modal Utama di Hari Tua

Selain uang, faktor kesehatan terbukti sangat menentukan. Responden yang merasa lebih optimistis umumnya karena kondisi fisik (58%) dan mental (52%) lebih baik dari perkiraan. Sebaliknya, kesehatan yang menurun menjadi alasan utama pensiun lebih cepat bagi 22 persen responden.

“Kesehatan adalah bentuk kekayaan yang nyata. Perencanaan pensiun seharusnya memadukan aspek finansial dan kesejahteraan agar kualitas hidup tetap terjaga,” tutup Albertus.

Tentang Sun Life

Sun Life adalah perusahaan jasa keuangan global yang menyediakan solusi asuransi, pengelolaan aset, kesehatan, dan kekayaan di berbagai negara. Hingga 30 September 2025, total aset kelolaan Sun Life mencapai CAD 1,62 triliun.

Di Indonesia, Sun Life menawarkan produk perlindungan jiwa, kesehatan, pendidikan, hingga perencanaan pensiun melalui jaringan lebih dari 1.242 tenaga pemasar. Per September 2025, tingkat Risk Based Capital tercatat 518% (konvensional) dan 220% (syariah), jauh di atas batas minimum pemerintah 120%.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru