Suasana banjir di kawasan Jalan Pondok Karya Komplek RW 04, Pela Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Selatan mencatat sebanyak 96 kelurahan di wilayah tersebut terdampak banjir sejak 2024. Data ini menjadi sinyal kuat perlunya evaluasi sistem mitigasi dan tata kelola drainase perkotaan.
Kepala BPS Kota Jakarta Selatan, Akhmad Fikri, mengatakan angka tersebut diperoleh dari hasil pendataan Potensi Desa (Podes).
“Kami mencatat sebanyak 96 desa/kelurahan di Jakarta Selatan terdampak bencana banjir,” ujar Fikri di Jakarta, Kamis (12/2/2026)
Wilayah Rawan Banjir di Jaksel
Berdasarkan data Podes, beberapa kecamatan dengan jumlah kelurahan terdampak banjir terbanyak antara lain:
Baca juga:
Pemprov DKI Siapkan Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Pengiriman Dikoordinasikan dengan BNPBPasar Minggu
Kebayoran Lama
Mampang Prapatan
Jagakarsa
Pancoran
Peningkatan jumlah kelurahan terdampak banjir pada 2024 dibanding tahun-tahun sebelumnya dipengaruhi oleh curah hujan tinggi dan persoalan drainase di sejumlah titik.
“Data bencana alam ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam memperkuat mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan wilayah perkotaan,” kata Fikri.
Tren Banjir Jakarta 2020–2025
Mengacu pada data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, frekuensi kejadian banjir dalam lima tahun terakhir (2020–2025) menunjukkan tren fluktuatif dengan total sekitar 498 kejadian.
Bulan dengan frekuensi tertinggi banjir terjadi pada:
Januari (63 kali)
Februari (63 kali)
Mei (63 kali)
Juni (63 kali)
Desember (64 kali)
Sementara bulan dengan kejadian terendah adalah:
September (30 kali)
Agustus (35 kali)
Juli dan Oktober (masing-masing 43 kali)
Data Banjir 2025 dan Awal 2026
Sepanjang 2025, BPBD DKI Jakarta mencatat 219 kejadian banjir di seluruh wilayah ibu kota. Rinciannya sebagai berikut:
Jakarta Utara: 73 kejadian
Jakarta Selatan: 46 kejadian
Jakarta Barat: 45 kejadian
Jakarta Timur: 41 kejadian
Jakarta Pusat: 7 kejadian
Kepulauan Seribu: 7 kejadian
Sementara pada Januari 2026, Jakarta Timur menjadi wilayah dengan frekuensi banjir tertinggi yakni delapan kejadian. Disusul Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan masing-masing tujuh kejadian.
Jakarta Pusat mencatat empat kejadian, sedangkan Kepulauan Seribu menjadi wilayah dengan kejadian terendah, yakni satu kali banjir.
Pentingnya Mitigasi dan Perencanaan Kota
Data BPS dan BPBD ini memperlihatkan bahwa persoalan banjir masih menjadi tantangan serius bagi Jakarta, khususnya Jakarta Selatan. Selain faktor cuaca ekstrem, perencanaan tata ruang, kapasitas drainase, serta pengelolaan daerah resapan air menjadi aspek penting yang perlu diperkuat.
Evaluasi berbasis data dinilai krusial agar kebijakan penanganan banjir tidak bersifat reaktif, melainkan preventif dan berkelanjutan.