Ilustrasi - Pekerja bergaji tinggi. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), muncul fenomena menarik di dunia kerja. Alih-alih pekerja berupah rendah, justru mereka yang berpenghasilan tinggi kini diliputi kecemasan lebih besar akan kehilangan pekerjaan.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan, ancaman AI membuat para profesional kerah putih memilih bertahan lebih lama di posisinya. Bukan karena terlalu nyaman, melainkan karena takut peluang kerja di luar sana tak lagi seaman dulu.
Kepala ekonom UBS, Arend Kapteyn, menyebut kekhawatiran ini tak lepas dari potensi AI menggantikan pekerjaan berbasis analisis dan administrasi. “Dugaan kami sebagian adalah ketakutan terhadap AI, karena pekerjaan kerah putih mungkin berisiko lebih besar,” tulis Kapteyn dalam catatannya.
Kecemasan tersebut tercermin dalam Survei Konsumen Universitas Michigan yang menunjukkan kepercayaan kelompok berpenghasilan tinggi terhadap pasar tenaga kerja berada di titik terendah sejak akhir 1970-an. Hasil serupa juga muncul dari survei bulanan Federal Reserve Bank of New York, yang mencatat lonjakan kecemasan soal pengangguran.
Menariknya, data perusahaan penggajian ADP memperlihatkan tingkat perpindahan kerja (turnover) di sektor profesional seperti keuangan dan jasa bisnis kini berada di level terendah sepanjang sejarah. Artinya, semakin banyak pekerja memilih “bertahan dan menunggu” ketimbang mengambil risiko pindah.
Fenomena ini juga disorot oleh CNBC, yang melaporkan bahwa ketakutan akan AI menjadi faktor psikologis baru di pasar tenaga kerja global. Mereka yang selama ini merasa berada di “zona aman” justru kini paling gelisah menghadapi otomatisasi dan algoritma cerdas.
Padahal secara angka, prospek kerja kelompok berpenghasilan tinggi masih tergolong solid. Data Bureau of Labor Statistics menunjukkan tingkat pengangguran sektor keuangan hanya sekitar 2,1 persen. Sementara sektor jasa profesional dan bisnis berada di kisaran 4,5 persen—bahkan lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Namun, rasa aman statistik belum tentu menenangkan psikologis. Kepala ekonom ADP, Nela Richardson, menyebut pasar tenaga kerja saat ini kehilangan vitalitasnya. “Tarik-ulur antara pertumbuhan lapangan kerja dan upah melemah, digantikan oleh sikap menahan diri,” ujarnya dikutip dari CNBC.
Sejumlah pejabat bank sentral AS justru melihat AI sebagai peluang, bukan ancaman. Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menilai AI adalah revolusi teknologi terbesar yang pernah ia saksikan. Senada, Presiden Richmond Fed Thomas Barkin menekankan bahwa AI tak hanya menggusur, tetapi juga memberdayakan pekerja.
Ke depan, AI kemungkinan besar akan menjadi “rekan kerja” baru—bukan sekadar pengganti. Tantangannya, apakah para pekerja siap beradaptasi, atau justru terjebak dalam ketakutan yang membuat mereka berhenti bergerak?