Jakarta Masuk Kota Teraman ASEAN, Pramono: Premanisme Masih Jadi PR Serius


  • Sabtu, 11 April 2026 | 16:30
  • | News
 Jakarta Masuk Kota Teraman ASEAN, Pramono: Premanisme Masih Jadi PR Serius Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (tengah) Wibowo dalam perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Jakarta boleh berbangga. Dalam laporan Global Residence Index 2026, ibu kota Indonesia ini berhasil menempati posisi kedua sebagai kota teraman di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).

Namun di balik capaian tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang belum selesai—premanisme.

Menurut Pramono, predikat ini memang patut diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat pemerintah lengah terhadap kenyataan di lapangan, terutama yang masih dirasakan oleh masyarakat kecil.

“Ini bukan klaim pemerintah, tapi hasil survei dunia. Tapi faktanya, masih ada pedagang kecil seperti tukang bakso yang dipalak. Ini jadi perhatian serius kami,” ujarnya di Lapangan Banteng, Sabtu (11/4/2026).

Kasus Tanah Abang Jadi Alarm Keras

Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan adalah aksi premanisme terhadap pedagang bakso di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Video kejadian tersebut sempat viral di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, seorang pria terlihat memecahkan mangkuk dagangan pedagang bakso setelah diduga melakukan pemalakan.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting: keamanan kota tidak cukup diukur dari data atau peringkat, tetapi dari rasa aman yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Respons Cepat: Pelaku Langsung Ditangkap

Pramono menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Begitu menerima laporan, ia langsung menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk bertindak cepat.

Hasilnya, pelaku yang tidak hanya memalak tetapi juga merusak barang dagangan berhasil diamankan dan ditahan.

“Saya langsung telepon Kepala Dinas Satpol PP. Pelaku yang memalak dan merusak langsung ditangkap,” tegasnya.

Langkah ini, lanjut Pramono, merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam merespons cepat setiap laporan warga.

Kota Besar, Tantangan Juga Besar

Sebagai kota metropolitan dengan lebih dari 11 juta penduduk—bahkan hampir 42 juta jika dihitung wilayah aglomerasi—Jakarta memiliki kompleksitas sosial yang tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, potensi gangguan keamanan akan selalu ada. Namun yang terpenting adalah bagaimana pemerintah hadir dan bertindak cepat saat masalah muncul.

Keamanan Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Pramono juga menekankan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

Partisipasi warga dalam melaporkan kejadian yang meresahkan dinilai menjadi kunci penting untuk menciptakan lingkungan yang benar-benar aman dikutip Antara.

Komitmen: Aman untuk Semua, Termasuk Pedagang Kecil

Ke depan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen memperkuat pengawasan di titik-titik rawan serta meningkatkan respons aparat terhadap laporan masyarakat.

Tujuannya jelas: memastikan keamanan tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang, tetapi merata hingga ke pedagang kecil dan sektor informal.

Karena pada akhirnya, kota yang benar-benar aman bukan hanya soal peringkat—melainkan tentang rasa aman yang dirasakan setiap warganya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru