Loading
Anggota Komisi VI DPR Kawendra Lukistian saat mengecek penumpang kereta api ANT
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Anggota Komisi VI DPR RI Kawendra Lukistian meminta pemerintah mengambil langkah tegas terhadap perusahaan transportasi Green SM atau “taksi hijau” setelah insiden kecelakaan kereta api di Bekasi, Jawa Barat, yang menimbulkan belasan korban jiwa.
Kawendra menduga kendaraan taksi tersebut menjadi pemicu awal rangkaian kecelakaan beruntun di perlintasan kereta api. Ia menilai peristiwa ini tidak seharusnya mencoreng upaya panjang transformasi layanan perkeretaapian nasional.
“Ini bukan sekadar insiden tunggal, sudah beberapa kali terhenti di perlintasan kereta api dan banyak aduan masyarakat terkait taksi ini,” kata Kawendra di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Politikus tersebut juga menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap operasional perusahaan transportasi yang dinilai kerap menimbulkan persoalan di lapangan. Ia bahkan mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pencabutan izin operasional perusahaan tersebut.
“Rasanya tidak berlebihan bila kita meminta pemerintah untuk mengevaluasi dan mencabut izin operasional perusahaan taksi asal Vietnam tersebut,” ujarnya.
Kawendra yang mengaku pernah menggunakan layanan kereta di Jabodetabek pada periode 2006–2010 juga menyinggung proses panjang transformasi yang dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) hingga menjadi lebih modern seperti saat ini.
Di sisi lain, ia menyampaikan belasungkawa atas insiden kecelakaan tersebut yang disebutnya sebagai peristiwa memilukan.
“Insyaallah, para korban khusnul khotimah dan yang terluka diberi kekuatan,” katanya.
Sementara itu, Kepolisian Daerah Metro Jaya melaporkan jumlah korban dalam insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4) malam mencapai 15 orang meninggal dunia.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyebutkan, korban meninggal terdiri dari 10 jenazah di RS Polri, 3 di RSUD Bekasi, 1 di RSU Bella, dan 1 di RS Mitra Keluarga.
Selain itu, terdapat 76 korban luka-luka, meski rincian jenis luka belum dijelaskan lebih lanjut oleh pihak kepolisian.