Loading
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan keterangan di Gedung Pakuan Bandung, Selasa (28/4/2026). ANTARA/Ricky Prayoga
BANDUNG, ARAHKITA.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menyoroti persoalan kerusakan tata ruang di Kabupaten Bogor yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya menjadi masalah lokal, tetapi juga ancaman serius bagi wilayah hilir seperti Bekasi, Karawang, hingga Jakarta.
Dedi menegaskan, kawasan Bogor memiliki peran penting sebagai daerah resapan air dan penyangga lingkungan bagi kawasan metropolitan di sekitarnya. Karena itu, ketika kawasan hijau dan perbukitan di Bogor mengalami alih fungsi secara masif, dampaknya akan langsung terasa di daerah bawah.
“Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” ujar Dedi dalam keterangannya di Bandung, Rabu (6/5/2026).
Ia secara khusus menyoroti kawasan Sukamakmur yang disebut mengalami perubahan fungsi lahan cukup besar. Perbukitan yang sebelumnya menjadi area resapan air kini mulai dipenuhi permukiman dan pembangunan lain yang mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan.
Menurut Dedi, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya banjir dan longsor yang belakangan semakin sering terjadi, terutama saat curah hujan tinggi mengguyur wilayah Bogor dan sekitarnya.
“Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang,” katanya.
Ia menjelaskan, hilangnya lahan hijau membuat keseimbangan alam terganggu. Air hujan yang seharusnya terserap ke dalam tanah akhirnya langsung mengalir ke sungai dan menyebabkan luapan di wilayah hilir.
Tak hanya itu, perubahan bentang alam di kawasan perbukitan juga meningkatkan risiko longsor, terutama di daerah dengan struktur tanah yang labil.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat disebut tengah menyiapkan evaluasi dan audit tata ruang untuk mengembalikan fungsi lingkungan di kawasan Bogor. Upaya tersebut dilakukan agar wilayah penyangga ibu kota tetap mampu menjalankan fungsi ekologisnya secara optimal.
“Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak datang setiap waktu,” ujar Dedi dikutip Antara.
Di akhir keterangannya, Dedi mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pengembang, hingga masyarakat, untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam Bogor. Ia mengingatkan bahwa keselamatan jutaan warga di kawasan hilir sangat bergantung pada kondisi lingkungan di wilayah hulu.
“Kalau ingin Bogor, Bekasi, Karawang sampai Jakarta terbebas dari bencana, mari kita jaga Bogor agar tidak hanya menjadi pusat eksploitasi, tetapi tetap mempertahankan keasrian alamnya,” tuturnya.