Arsip foto - Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/agr.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa fenomena El Nino 2026 kini telah memasuki kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi ini diperkirakan memicu musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Teuku, hasil pemantauan BMKG menunjukkan indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) saat ini telah mencapai +1,59, yang menandakan El Nino berada pada kategori kuat.
"Data pemantauan periode Mei, Juni, dan Juli menunjukkan El Nino telah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi berkembang menjadi sangat kuat," ujarnya.
BMKG Sudah Mengingatkan Sejak Maret
BMKG sebenarnya telah mengeluarkan peringatan dini sejak pertengahan Maret 2026 ketika El Nino masih diperkirakan berada pada kategori moderat.
Selanjutnya, pada 2 Juni 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) secara resmi menyatakan fenomena El Nino telah aktif.
Fenomena ini menyebabkan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim kemarau menjadi lebih kering dibandingkan kondisi normal.
BMKG memperkirakan curah hujan pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah.
Meski demikian, Indonesia diprediksi mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026. Seiring datangnya musim hujan, dampak El Nino terhadap curah hujan diperkirakan akan berangsur melemah.
El Nino Diperkirakan Berlangsung hingga Mei 2027
BMKG memperkirakan El Nino yang mulai aktif sejak Juni 2026 akan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan atau hingga sekitar Mei 2027.
Namun, Teuku menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.
"Begitu musim hujan datang, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak lagi signifikan," jelasnya dikutip Antara.
Wilayah Selatan Indonesia Paling Berisiko
Dampak El Nino tidak dirasakan secara merata di seluruh Indonesia.
Wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis.
Daerah yang berpotensi terdampak antara lain:
Nusa Tenggara Timur (NTT)
Nusa Tenggara Barat (NTB)
Bali
Pulau Jawa
Sumatera bagian selatan
Sementara itu, wilayah pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan secara signifikan karena memiliki karakteristik pola hujan yang berbeda.
Berpotensi Ganggu Pertanian hingga Ekonomi
BMKG menilai El Nino dapat memengaruhi berbagai sektor strategis, di antaranya:
Pertanian dan ketahanan pangan
Penyediaan air bersih
Pengelolaan waduk dan irigasi
Kebakaran hutan dan lahan
Energi
Kesehatan masyarakat
Perikanan
Aktivitas ekonomi
Untuk mengurangi dampaknya, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak beberapa bulan terakhir.
Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca guna meningkatkan cadangan air di bendungan yang mengalami penurunan kapasitas serta mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.