Minggu, 20 September 2026

Peringatan Serangan Udara di Riyadh, Asap Hitam Membubung di Dekat Bandara


 Peringatan Serangan Udara di Riyadh, Asap Hitam Membubung di Dekat Bandara Foto ilustrasi: Riyadh/Pixabay

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Asap tebal dan kobaran api terlihat di dekat Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu setelah pemerintah mengeluarkan peringatan serangan udara kepada warga.

Peringatan tersebut dikirimkan melalui telepon pada Jumat malam. Selain Riyadh, peringatan juga diberikan kepada warga di Jeddah dan sejumlah kota lainnya, termasuk Yanbu, pelabuhan industri utama yang menjadi lokasi fasilitas minyak vital.

Suara ledakan terdengar di ibu kota Arab Saudi. Di dekat Bandara Internasional King Khalid, petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar tangki bahan bakar dengan logo perusahaan minyak Saudi, Aramco.

Peringatan serangan udara tersebut menjadi perhatian karena merupakan kali pertama pemerintah mengeluarkan peringatan serupa untuk Riyadh sejak pertempuran dengan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman meningkat pada Juli.

Sementara itu, kondisi di Bandara Internasional King Khalid juga mengalami gangguan. Menurut situs pelacakan penerbangan FlightRadar24, seperti dilansir The Guardian, bandara tersebut mengalami "masalah besar" dan statusnya masuk dalam kategori indeks gangguan tingkat maksimum.

Pasukan pertahanan sipil Arab Saudi pada Jumat malam mengirimkan peringatan serangan udara kepada penduduk Riyadh, Jeddah, dan sejumlah kota lainnya.

Yanbu menjadi salah satu wilayah yang mendapat peringatan. Kota tersebut merupakan pelabuhan industri utama yang menjadi lokasi fasilitas minyak vital.

Tidak lama setelah peringatan dikeluarkan, status aman atau all-clear diumumkan. Meski demikian, warga tetap diimbau untuk tidak berkumpul dalam kerumunan.

DK PBB Kecam Serangan Houthi

Perkembangan tersebut terjadi ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangan berkelanjutan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Dalam pernyataan pada Jumat, Dewan Keamanan PBB menyebut serangan Houthi berdampak pada infrastruktur sipil dan energi serta menyebabkan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, terluka.

Dewan Keamanan PBB juga mengecam ofensif militer Houthi di Yaman. Berdasarkan data Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Rabu, hampir 105.000 orang telah mengungsi dari rumah mereka akibat situasi tersebut.

Ke-15 anggota Dewan Keamanan PBB menyerukan "kerja sama praktis" untuk mencegah Houthi memperoleh senjata, pelatihan militer, pendanaan, dan bantuan terkait militer lainnya yang diperlukan untuk melancarkan serangan.

Mereka juga menegaskan bahwa seluruh negara harus menegakkan embargo senjata PBB terhadap kelompok tersebut.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan kelompoknya telah menggagalkan "upaya kriminal" yang tidak dirinci di ibu kota Yaman, Sana'a.

Ia menyalahkan Arab Saudi dan bersumpah akan melakukan pembalasan. Kelompok Houthi juga menyebut angkatan udara Saudi telah melancarkan ratusan serangan udara terhadap mereka dalam beberapa hari terakhir.

Ketegangan tersebut berlangsung ketika Houthi disebut baru-baru ini merebut kendali atas pulau-pulau strategis di Laut Merah, yaitu Hanish Besar dan Hanish Kecil.

Pada awal bulan ini, kelompok tersebut juga menguasai Pelabuhan Mokha dan Pulau Perim di Selat Bab al-Mandab. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya krisis pasokan minyak kedua di dunia.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru