Ilustrasi - Suasana lanskap kota yang diselimuti polusi udara di Jakarta. Kualitas udara Jakarta pada Kamis (9/7/2026) pagi.ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym/am.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kualitas udara Jakarta kembali menjadi perhatian. Pada Kamis pagi (13/8/2026), udara di ibu kota tercatat berada dalam kategori tidak sehat dan menempatkan Jakarta di posisi keenam dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Berdasarkan data pemantauan IQAir pada pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta mencapai 156. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat, sehingga masyarakat disarankan lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Bagi warga yang harus bepergian atau beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi paparan polusi udara.
Jakarta Masuk Enam Besar Kota dengan Udara Terburuk
Pada pemantauan tersebut, Jakarta berada di peringkat keenam kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Posisi teratas ditempati Kampala, Uganda, dengan AQI 209. Selanjutnya Kuching, Malaysia, berada di posisi kedua dengan AQI 176, disusul Lahore, Pakistan, dengan AQI 173.
Peringkat kualitas udara seperti ini bersifat dinamis karena kondisi udara dapat berubah dari waktu ke waktu. IQAir sendiri menyediakan pemantauan kualitas udara kota-kota dunia secara langsung dengan pembaruan berkala.
Kondisi tersebut kembali mengingatkan bahwa persoalan polusi udara Jakarta masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan penanganan dari berbagai sektor.
Transportasi Jadi Salah Satu Fokus Pemprov DKI
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperbaiki kualitas udara ibu kota. Salah satu fokus utamanya adalah sektor transportasi.
Pemprov DKI terus memperluas konektivitas transportasi publik melalui layanan Transjabodetabek. Sejumlah rute yang dikembangkan antara lain Blok M–Alam Sutera, Blok M–PIK 2, hingga rencana rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga mengajak masyarakat semakin banyak menggunakan transportasi umum untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Pemprov DKI bahkan telah menyediakan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat dikutip Antara.
Dorongan terhadap penggunaan transportasi publik ini bukan tanpa alasan. Pemprov DKI menyebut sektor transportasi memberikan kontribusi sekitar 50 persen terhadap emisi gas buang di Jakarta.
Karena itu, pemerintah menargetkan penggunaan bus listrik dalam jumlah besar. Salah satu target yang disiapkan adalah 10.000 bus listrik Transjakarta hingga 2030 sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi dari sektor transportasi.
Konektivitas Transportasi Terus Diperkuat
Di sisi lain, konektivitas transportasi Jakarta disebut telah mencapai 92 persen. Capaian tersebut menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.
Dengan semakin luasnya jaringan transportasi umum, pemerintah berharap masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk meninggalkan kendaraan pribadi.
Upaya ini penting karena perbaikan kualitas udara tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilih moda transportasi.
Kampanye untuk menggunakan transportasi umum juga terus didorong sebagai bagian dari upaya mengurangi kemacetan sekaligus polusi udara Jakarta.
Pengelolaan Sampah Ikut Jadi Perhatian
Selain transportasi, Pemprov DKI Jakarta juga menempatkan sektor pengelolaan sampah sebagai bagian dari strategi pengendalian emisi.
Pemerintah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah atau Intermediate Treatment Facility (ITF) di sejumlah lokasi, antara lain Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
Pengelolaan sampah menjadi penting karena persoalan lingkungan di kota besar tidak hanya berkaitan dengan kendaraan bermotor, tetapi juga bagaimana sampah dikurangi, diolah, dan dikelola secara berkelanjutan.
Dengan menggarap sektor transportasi dan pengelolaan sampah secara bersamaan, Pemprov DKI berharap kontribusi emisi di Jakarta dapat ditekan.
Udara Jakarta Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Masuknya Jakarta dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk dunia kembali menjadi pengingat bahwa persoalan polusi udara belum selesai.
Perluasan transportasi publik, elektrifikasi armada, pengelolaan sampah, serta partisipasi masyarakat menjadi sejumlah langkah yang harus berjalan secara beriringan.
Bagi masyarakat, langkah paling sederhana adalah tetap memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan yang sesuai ketika kondisi udara memburuk.
Sementara bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan berbagai kebijakan tersebut tidak berhenti sebagai target, tetapi benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas udara Jakarta.
Sebab, udara bersih bukan hanya soal angka AQI. Lebih jauh, kualitas udara menyangkut kesehatan, kenyamanan, dan kualitas hidup jutaan warga Jakarta.