llustrasi - Warga menggunakan masker saat berjalan menuju halte Transjakarta Setiabudi Utara Aini, Jakarta. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada Jumat (10/7/2026)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Warga Jakarta kembali dihadapkan pada buruknya kualitas udara. Pada Jumat pagi, ibu kota tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk ketiga di dunia, berdasarkan pemantauan terbaru. Kondisi ini membuat masyarakat, terutama kelompok rentan, diminta lebih waspada dan mengurangi paparan polusi. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker sangat dianjurkan.
Berdasarkan data pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.45 WIB, Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) Jakarta berada di angka 153. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 57,5 mikrogram per meter kubik.
Kategori ini menunjukkan kualitas udara yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan seperti asma dan gangguan paru-paru. Selain itu, polusi udara juga dapat memengaruhi hewan yang sensitif, tumbuhan, hingga menurunkan kualitas lingkungan.
Masyarakat Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Melihat kondisi tersebut, masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Apabila tetap harus beraktivitas, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti masker KN95 atau sejenisnya. Menutup jendela rumah dan mengurangi masuknya udara dari luar juga menjadi langkah sederhana untuk meminimalkan paparan polusi.
Memahami Kategori Kualitas Udara
Secara umum, kualitas udara dibagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan indeks PM2.5, yaitu:
Baik (0–50): Tidak berdampak pada kesehatan manusia, hewan, maupun lingkungan.
Jakarta Urutan Ketiga, Kinshasa Terburuk
Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk pada Jumat pagi, posisi pertama ditempati Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan AQI 184. Di urutan kedua terdapat Kampala, Uganda dengan AQI 155.
Jakarta berada di posisi ketiga dengan AQI 153, disusul Medan di peringkat keempat dengan AQI 130, dan Yerusalem di posisi kelima dengan AQI 112.
Pemprov DKI Siapkan Sistem Peringatan Dini Polusi
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah mengembangkan Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini kualitas udara.
Sistem ini dirancang untuk memprediksi kondisi polusi udara secara lebih akurat sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi lebih cepat sebelum kualitas udara memburuk dikutip Antara.
Pengembangan EWS menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta untuk menekan dampak pencemaran udara sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Keberadaan sistem ini diharapkan memberi perlindungan lebih baik bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan. Dengan informasi yang lebih akurat, masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi, mulai dari memakai masker, mengurangi aktivitas fisik di ruang terbuka, hingga membatasi paparan polusi saat kualitas udara berada pada level tidak sehat.