Kamis, 17 September 2026

Wamenkes Ungkap 2,3 Juta Anak Indonesia Belum Pernah Divaksin, Ancaman KLB Mengintai


 Wamenkes Ungkap 2,3 Juta Anak Indonesia Belum Pernah Divaksin, Ancaman KLB Mengintai Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, didampingi Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Raden Vini Adiani Dewi memberikan keterangan di Gedung Dinkes Jabar, Bandung, Selasa (12/5/2026). (ANTARA/HO Pemkot Bandung)

BANDUNG, ARAHKITA.COM – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan Indonesia masih menghadapi ancaman serius di sektor kesehatan anak. Hingga tahun 2025, tercatat sekitar 2,3 juta anak masuk kategori zero dose, yakni anak yang belum pernah menerima satu pun imunisasi dasar.

Angka tersebut dinilai mengkhawatirkan karena dapat membuka celah munculnya kembali berbagai penyakit menular seperti campak, polio, hingga difteri.

Menurut Dante, meskipun cakupan imunisasi nasional saat ini sudah mencapai sekitar 80 persen, angka itu masih belum cukup untuk membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Untuk menciptakan perlindungan maksimal di masyarakat, cakupan imunisasi minimal harus mencapai 90 persen.

“Kasus campak dan beberapa penyakit menular yang kembali muncul menunjukkan masih ada celah perlindungan imunisasi di masyarakat,” ujar

Dante saat melakukan kunjungan lapangan tematik di Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).

Hoaks Vaksin Masih Jadi Penyebab

Dante menilai tingginya jumlah anak zero dose salah satunya dipengaruhi maraknya informasi yang tidak tepat mengenai vaksin. Berbagai hoaks yang beredar di media sosial membuat sebagian orang tua ragu memberikan imunisasi kepada anak mereka.

Salah satu isu yang masih sering muncul adalah anggapan bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme. Padahal, menurut Dante, berbagai penelitian empiris berskala global telah membuktikan tidak ada hubungan antara imunisasi dan autisme.

“Studi terhadap jutaan orang di seluruh dunia menunjukkan vaksin tidak menyebabkan autisme,” jelasnya.

Selain itu, isu agama juga masih menjadi tantangan tersendiri. Dante mencontohkan vaksin campak yang sempat dipersoalkan karena proses produksinya menggunakan tripsin babi untuk pemisahan sel pertumbuhan. Namun, ia menegaskan bahan tersebut sudah melalui proses pemurnian sehingga tidak terdapat lagi pada produk akhir vaksin.

Ia menambahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah menyatakan vaksin campak aman dan tidak mengandung unsur tripsin babi dalam produk akhirnya.

Peran Posyandu hingga Tokoh Agama Sangat Penting

Wamenkes menegaskan penanganan anak zero dose tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak mulai dari Posyandu, pemerintah daerah, media massa, hingga tokoh agama untuk memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat.

Menurutnya, jika cakupan imunisasi terus menurun, Indonesia berisiko menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular dalam waktu singkat.

“Kalau imunisasi tidak dilakukan cepat pada anak-anak zero dose, maka ini akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Sedikit saja angka vaksinasi turun, KLB bisa langsung muncul,” katanya.

Jawa Barat Dinilai Jadi Contoh Nasional

Dalam kesempatan itu, Dante juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berhasil menurunkan jumlah anak zero dose secara signifikan.

Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar berhasil ditekan dari 102 ribu menjadi sekitar 67 ribu anak.

“Penurunannya hampir 40 ribu anak. Ini capaian luar biasa dan bisa menjadi contoh nasional dalam inovasi pelayanan kesehatan serta penguatan Posyandu,” ujarnya.

Dante juga meminta media massa semakin aktif melawan hoaks kesehatan yang banyak beredar di media sosial. Edukasi tentang pentingnya imunisasi dasar seperti campak, polio, dan DPT dinilai penting untuk menjaga masa depan kesehatan anak Indonesia.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Olahraga Terbaru