Loading
Mereka memanfaatkan situs jaringan sosial seperti Facebook, Twitter, Myspace dan lain-lain untuk mengirim undangan. (Istimewa)
ZAMAN telah berubah. Gaya mengirim undangan pernikahan pun kini bergeser dari yang serba formal menjadi informal. Dan kini, sedang tren dilakukan oleh net generation. Generasi ini melanggar tradisi yang telah lama dijunjung.
Gaya mereka tergolong efektif, efisien, praktis, terukur serta ramah lingkungan karena tidak ada pemborosan kertas. Mereka memanfaatkan situs jaringan sosial seperti Facebook, Twitter, Myspace dan lain-lain. Eranya techno-wedding!
Stephany Febriarini Romas (Fany) dan Petrus Damianus Indi Fendrastianto (Indi) adalah pasangan pengantin baru yang beberapa waktu lalu meresmikan hubungan mereka melalui pemberkatan pernikahan di gereja dan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Baik Fany maupun Indi, keduanya punya banyak kerabat, sahabat, teman. Mereka adalah net generation (generasi melek internet). Hal ini terbukti karena mereka paham paham serta melek teknologi internet dengan berselancar ria, membangun hubungan persahabatan, jaringan, melalui situs jaringan sosial bernama facebook.
Dua minggu menjelang pernikahan mereka berlangsung yang jatuh pada Sabtu, 7 November 2009 lalu, Fany dan Indi sama-sama mempublikasikan undangan pernikahan mereka melalui facebook. Fany men-tag nama-nama yang telah didaftarnya untuk diundang. Demikian halnya juga Indi.
Fany menurut penuturannya, men-tag 160 orang yang merupakan sahabat, kerabat, dan teman. Dari jumlah tersebut sekitar 15%-20% yang hadir. Sisanya tidak hadir karena berhalangan. Bagi Fany, undangan melalui facebook sebagai gaya baru generasi muda saat ini dan bertujuan selalu mengundang dan mengharapkan kehadiran para tamu undangan, juga menginformasikan pernikahan mereka karena orang-orang yang di-tag di undangan tersebut tidak semuanya tinggal di Jakarta. Ada yang di luar Jakarta seperti di Yogyakarta, Magelang maupun di luar pulau Jawa lainnya.
Fany mengaku senang karena begitu banyak respon tamu undangan yang di-tag-nya.”Senang ya karena langsung ada respon dan komentar-komentar mereka yang kadang datar, normal, jenaka hingga menyebalkan karena terkesan menggoda kami sebagai calon pengantin baru. Selain itu saya merasa dihargai dengan respon tersebut. Datang dan tidak datang itu persoalan lain,”ujar mantan Pengacara yang kini berkarir di sebuah perusahaan swasta di kawasan industri di Cikarang-Jawa Barat.
Emma Widhia teman Fany dalam wedding invitation misalnya, menulis,”Fan congratulation ya, Happy ever after ya, Semoga berbahagia”. Robertus Kristian Eko Nugroho menulis,”Fan aku ucapkan turut berbahagia.... tapi maaf aku gak bisa datang karena jarak yang cukup jauh.. doa saya saja agar anda dapat siap dan kuat mengarungi hidup baru”. JP Budi Waskito menulis,” Fanny.. maaf ga bisa dateng ya. sukses buat acaranya, semoga berjalan lancar. Semoga juga menjadi keluarga yang sakinah......hehehe. Selamat ya!
Cella Watimena, karyawan swasta berkomentar soal gaya baru tersebut. Kata Cella, dari segi efektifitas, efisiensi sangat tinggi karena dapat menjangkau sampai ke seluruh dunia. Namun perlu diingat bahwa pengguna internet di Indonesia masih sebatas kalangan menengah ke atas, sementara biasanya undangan yang harus dikirim juga menjangkau kalangan beragam yang mungkin saja semuanya belum familiar dengan internet.
“Saran saya, sebaiknya undangan yang masih bersifat tradisional pun perlu dipertahankan karena dapat menjangkau segala lapisan dan golongan serta dapat didokumentasikan,”ujar Cella.
Lain lagi pendapat Caroline. Pegiat LSM yang sering keluar kota ini sangat setuju dengan gaya baru mengirim atau mempublikasikan undangan melalui situs jaringan sosial seperti facebook. Karena menurutnya dapat langsung diketahui seketika dan agenda pribadi pun bisa diatur jauh-jauh hari. Apalagi kata Caroline, jika undangan dikirim ke alamat kantor atau rumah, bisa-bisa pas hari H pernikahan Caroline belum tiba di rumah atau telah memiliki agenda lainnya.
Beberapa wirausahawan khusus kartu undangan yang ditemui Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan ketika ditanya gaya mengirim undangan via internet berkomentar sama soal undangan via internet. Mereka tidak melihat itu sebagai ancaman karena biasanya calon pengantin juga mencetak kartu undangan dan ada yang di-scan untuk diemail. Apalagi menurut mereka belum banyak orang Indonesia dapat mengakses internet.
Buyung misalnya mengatakan bahwa lumrah saja dalam bisnis. Bukan sebagai ancaman karena pengguna internet masih sedikit sementara pelanggannya menjangkau seluruh Indonesia dan bukan saja dari kalangan menengah ke atas. “Pesanan cetak kartu undangan nikah masih normal-normal. Omzet kami terjaga. Kami tidak terganggu dengan teknologi baru tersebut,”tegas Buyung.
Efektif, Efisien, dan PraktisGaya mempublikasikan undangan pernikahan seperti yang dilakukan Fany dan Indi, dikenal dengan e-wedding invitation yang merupakan media untuk mempublikasikan undangan pernikahan secara elektronik.
Keuntungan yang didapat baik Fany dan Indi maupun calon pengantin lainnya melalui e-wedding invitation ini adalah menghemat biaya pencetakan undangan, dari segi waktu sangat efisien serta ketepatan informasi cukup terjamin serta dapat diakses dimana saja di seluruh dunia. Dapat dikirimkan lewat email, blog, dan lain-lain. Lebih praktis, dan juga bisa menghemat biaya cetak undangan. Bisa menampilkan lebih dari satu foto terbaik Anda beserta pasangan. Juga, lifetime e-wedding invitation dapat menjadi dokumentasi undangan seumur hidup. Juga sebagai tempat dokumentasi foto-foto prewedding.
Facebook (FB) kini telah menjelma sebagai situs jejaring sosial terbesar sejagad. Hal ini dapat dilihat dari data per 16 Juli 2009 lalu, pengguna fb dinyatakan telah mencapai 250 juta, sedang di Indonesia tak kurang 5,9 juta orang telah bergabung dengan aplikasi karya Mark Zuckerberg ini. Fb pun telah menjelma sebagai bahasa pergaulan yang popular untuk segala urusan dan kepentingan misalnya mempublikasikan wedding invitation Anda.
Selain memikat dari segi fitur, popularitas fb ditenggarai terdongkrak karena kehandalan jalur koneksinya. Selain utamanya akse fb lewat web, tersedia jalur akses fb mobile dan fb sms. Ditambah, beberapa vendor sistem operasi menciptakan aplikasi khusu fb untuk perangkatnya, seperti Microsoft dan BlackBerry.
Melihat fitur-fiturnya maka segala hal yang berkaitan dengan pernikahan pun kini mulai bergeser dan bersentuhan dengan teknologi digital tersebut (techno wedding).
Fany dan Indi menambahkan, kehebatan facebook adalah simpel dan elegan, didukung dengan banyak fitur dalam satu halaman. Ini, lanjut Fany, membuat teman-temannya enjoy dengan facebook dan cepat mengakses informasi yang disampaikan seperti wedding invitation. Mereka, kata Fany, bisa mengetahui secara langsung apa yang sedang dipikirkan atau apa yang dilakukan oleh teman-temannya sekaligus bisa langsung memberikan komentar. Semua berada pada satu halaman. Dan, bagi teman-teman yang berhalangan hadir pada hari pernikahan kami pun dapat melihat album pernikahan yang telah di-upload serta mengomentari secara beragam.
Duh, dunia kini tengah berubah berkat karya dan kreativitas Mark Zuckerberg ini!
Ulah Generasi Net,Interupsi Pernikahan demi Status di Facebook Seorang mempelai pria dari Maryland telah menciptakan kehebohan setelah ia mengganggu upacara pernikahannya bulan lalu karena "meng-update" komentarnya di Facebook dan Twitter dari altar. Pengantin pria ini menamai dirinya "teknologi sentris".
Dana Hanna, seorang pengembang software, menarik perhatian umat yang hadir pada seremoni pemberkatan pernikahannya ketika dia tiba-tiba mengambil jeda setelah mendeklarasikan janji perkawinannya untuk kemudian mengubah statusnya di situs jejaring sosial. Umat tertegun melihat Dana menulis untuk dunia maya.
"Sedang berdiri di depan altar dengan @Tracy Page yang beberapa detik yang lalu, dia telah menjadi istri saya. Sudah waktunya pergi, untuk mencium mempelai wanita."
Dana Hanna, juga mengirim rekaman video singkat upacara tersebut ke internet. Rekaman itu memperlihatkan ia sedang merogoh sakunya untuk mengambil telefonnya sewaktu pemimpin upacara siap mengumumkan dia dan pasangannya sebagai suami-istri. Video tersebut telah dilihat oleh lebih dari 350.000 orang.
"Oh, Dana sedang memperbarui status hubungannya di Facebook," kata pemimpin upacara sementara hadirin pada acara itu tertawa.
Setelah Hanna menyelesaikan perbuatannya, ia melanjutkan upacara tersebut.
"Sebagaimana saya katakan, saya sekarang menyatakan Anda sebagai suami dan istri. Itu sekarang resmi di Facebook. Itu sekarang resmi di buku saya. Dana kamu boleh mencium mempelai wanita," kata pemimpin upacara tersebut.
Hanna, yang mendaftarkan profesinya di jejaring LinkedIn sebagai kepala arsitektur di Next Day Pets, menggambarkan reaksinya terhadap upacara itu di "kaplingnya" di YouTube sehari setelah upacara itu.
"Saya bukan hanya membuat terkejut para tamu saya, tapi juga Tracy (istrinya) dengan mengeluarkan telefon saya dan mengirim ke Facebook dan Twitter dari altar selama upacara pernikahan," katanya.
Kendati pengguna telah mengajukan lamaran perkawinan melalui laman "blog" mikro Twitter, tapi mengganggu upacara pernikahan untuk memperbarui isi laman jejaring sosial Facebook dan mengirim ke Twitter mengenai acara itu tampaknya menjadi yang pertama.
"Saya menyimpan telepon dia di kantung saya, jadi ketika ia memintanya saya dapat menyerahkannya kepada dia. Tak seorang mengetahui mengenai ini kecuali pemimpin upacara dan diri saya," kata Hanna di YouTube
Kiriman ke Twitter, yang telah membuat Hanna terkenal secara mendadak, masih ada di lamannya.
"Berdiri di altar dengan @TracyPage, tempat hanya sedetik sebelumnya, ia menjadi istri saya! Harus pergi, waktunya untuk mencium mempelai wanita. #weddingday 1:48 PM Nov 21st from Twittelator.
Sehari sebelumnya, Hanna, yang tampaknya kebanjiran perhatian media, mengirim momen baru di lamannya di Twitter.
"Kepada semua pengeritik video saya di luar saya, yang mempertanyakan kegilaan saya: Anda tak mengerti. Saya bergembira pada perkawinan SAYA! Lega, bergembira."
Mempelai wanita barunya, yang juga kelihatan terkejut dengan tingkah suaminya, juga mengirim ke lamannya di Twitter.
"Nggak bisa tidur `nih, sangat gelisah mengenai ketenaran baru ini. Apa yang bakal terjadi, ya?" sang mempelai wanita bertanya-tanya.