Loading
Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2026 di Jakarta, Jumat (15/8/2025). (bloombergtechnoz.com)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen pada tahun 2026. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan dorongan investasi jumbo hingga Rp7,45 kuadriliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa angka tersebut mencakup total kebutuhan investasi dalam Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Meski nilainya sangat besar, tidak seluruhnya harus ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“APBN akan berfungsi sebagai katalis, bukan satu-satunya sumber investasi. Dorongan utama tetap datang dari sektor swasta dan BUMN di bawah Danantara Indonesia,” ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan 2026 di Jakarta, Sabtu (16/8/2025).
Sumber Investasi
Sri Mulyani menjelaskan, investasi yang diharapkan pada 2026 akan ditopang oleh tiga pilar utama:
Sektor swasta: Rp6.200 triliun
BUMN melalui Danantara Indonesia: Rp720 triliun
APBN 2026: Rp530 triliun
Adapun sektor prioritas yang akan digenjot meliputi mineral dan batu bara, transisi energi, ketahanan energi, hilirisasi pertanian, serta kelautan dan perikanan.
Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha
Untuk mempercepat realisasi, pemerintah juga akan memperkuat kerja sama antara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia dengan para pelaku usaha swasta. Langkah ini diyakini menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketatnya persaingan global.
Target Lima Tahun ke Depan
Senada dengan Sri Mulyani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyebut kebutuhan investasi pada periode 2025–2029 mencapai Rp13.032,8 triliun. Angka ini naik sekitar 43 persen dibanding capaian investasi satu dekade terakhir (2014–2024) yang sebesar Rp9.912 triliun.
“Investasi yang meningkat diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, meningkatkan daya beli masyarakat, serta memperkuat ekspor nasional,” kata Rosan.
Tantangan dan Harapan
Dengan kebutuhan investasi yang begitu besar, tantangan pemerintah ke depan adalah memastikan iklim usaha tetap kondusif, menjaga kepastian hukum, dan mempercepat birokrasi. Dukungan regulasi serta insentif fiskal juga diyakini akan menjadi kunci keberhasilan mencapai target ambisius tersebut dikutip Antara.