Loading
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti (tengah) berfoto bersama sejumlah perwakilan lembaga dan bursa dalam acara pembukaan Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia 2026 di Kantor Kemendag RI, Jakarta, Jumat (2/1/2026). ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah resmi membuka Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia (PBK) tahun 2026. Pembukaan ini dilakukan oleh Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, di Kantor Kementerian Perdagangan RI, Jakarta, Jumat (2/1/2025).
Dalam sambutannya, Roro menyampaikan harapan agar tahun 2026 menjadi momentum positif bagi penguatan perdagangan berjangka komoditi di Indonesia. Ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar sektor ini memberi dampak nyata bagi perekonomian nasional.
“Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia tahun 2026 resmi saya buka. Semoga tahun ini membawa perkembangan yang semakin baik bagi sektor perdagangan berjangka ke depan,” ujar Roro.
Baca juga:
Perdagangan Berjangka Komoditi Melonjak! ICDX Catat Nilai Transaksi Rp12,48 Kuadriliun di Q1 2026Menurut Roro, perdagangan berjangka komoditi memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai sarana transaksi, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan harga yang transparan serta perlindungan risiko (lindung nilai) bagi pelaku usaha.
Hal tersebut tercermin dari data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi yang menunjukkan kinerja positif sepanjang 2025. Nilai nominal transaksi PBK tercatat mencapai Rp48.867 triliun, meningkat 49,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, volume transaksi juga naik 12 persen yoy menjadi 14,56 juta lot.
“Progres yang disampaikan menunjukkan bahwa sektor ini terus bertumbuh dan kontribusinya terhadap pengembangan ekonomi nasional semakin terlihat,” kata Roro.
Secara khusus, Wamendag menyoroti komoditas lemak dan minyak nabati, termasuk minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), yang masih menjadi andalan ekspor Indonesia. Sepanjang 2025, nilai ekspor CPO Indonesia tercatat mencapai 28,37 miliar dolar AS.
Roro pun mendorong para pelaku industri dan pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan transaksi melalui bursa berjangka, sekaligus mengoptimalkan tata niaga dan ekosistem perdagangan yang ada.
“Pembentukan harga dan harga acuan melalui bursa berjangka adalah manfaat utama PBK yang perlu dimaksimalkan,” tegasnya dikutip Antara.
Selain itu, ia berharap komoditas unggulan lain yang selama ini belum diperdagangkan di bursa berjangka dapat segera masuk ke dalam sistem perdagangan tersebut.
Dengan begitu, manfaat PBK seperti transparansi harga, harga acuan, hingga mekanisme lindung nilai dapat dirasakan lebih luas.
“Optimalisasi perdagangan berjangka diharapkan mampu meningkatkan pendapatan negara sekaligus menjaga surplus neraca perdagangan Indonesia,” pungkas Roro.