Jumat, 23 Januari 2026

Wall Street Ditutup Melemah di Tengah Volatilitas Obligasi dan Isu Kepemimpinan The Fed


 Wall Street Ditutup Melemah di Tengah Volatilitas Obligasi dan Isu Kepemimpinan The Fed Wall Street Ditutup Melemah. (Antaranews/Antara/Xinhua/Hu Yousong)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Saham-saham Amerika Serikat ditutup sedikit melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat, seiring meningkatnya volatilitas di pasar obligasi dan kembali mencuatnya ketidakpastian terkait masa depan kepemimpinan Federal Reserve. Sentimen tersebut menahan pergerakan indeks utama Wall Street meski pelemahan yang terjadi relatif terbatas.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 83,11 poin atau 0,17 persen ke level 49.359,33. Indeks S&P 500 melemah 4,46 poin atau 0,06 persen menjadi 6.940,01, sementara Nasdaq Composite turun 14,63 poin atau 0,06 persen ke posisi 23.515,39.

Kinerja sektor dalam indeks S&P 500 bergerak bervariasi. Sektor real estat dan industri mencatat penguatan masing-masing 1,2 persen dan 0,65 persen, menjadi penopang utama pasar. Sebaliknya, sektor layanan kesehatan dan komunikasi mencatatkan tekanan terbesar dengan penurunan masing-masing 0,84 persen dan 0,72 persen.

Tekanan pasar meningkat pada perdagangan intraday setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett kemungkinan akan tetap berada di posisinya saat ini. Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa pergantian kepemimpinan The Fed dari Jerome Powell tidak akan terjadi dalam waktu dekat, berbeda dari perkiraan sebagian pelaku pasar sebelumnya.

Isu tersebut turut berdampak pada pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan naik ke level 4,23 persen, tertinggi sejak awal September. Kenaikan yield mencerminkan kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral serta implikasi dari data inflasi yang menunjukkan sinyal campuran dalam beberapa waktu terakhir.

Meski pasar diwarnai volatilitas, sejumlah analis menilai fundamental masih relatif kuat. Analis dari ING menyatakan bahwa kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan The Fed yang bersifat ekstrem sejauh ini belum terwujud. Bahkan, para gubernur bank sentral yang ditunjuk oleh Trump dinilai belum mendorong kebijakan pemangkasan suku bunga secara agresif.

Perhatian investor juga tertuju pada proses hukum yang melibatkan Gubernur The Fed Lisa Cook, yang dijadwalkan akan mulai disidangkan di Mahkamah Agung Amerika Serikat pada pekan depan. Proses tersebut dinilai berpotensi menambah ketidakpastian bagi pasar keuangan.

Dari sisi korporasi, dilansir Antara, pekan pertama musim laporan keuangan kuartal keempat bank-bank regional AS berakhir dengan hasil yang beragam. Saham PNC Financial melonjak 3,79 persen setelah mencatatkan biaya konsultasi yang kuat dan aktivitas transaksi yang solid.

Sementara itu, saham Regions Financial terkoreksi 2,63 persen setelah perusahaan merilis panduan kinerja yang dinilai mengecewakan dan melaporkan hasil kuartalan yang berada di bawah perkiraan analis.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru