Loading
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di Ayu Masagung Money Changer
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan seiring munculnya spekulasi bahwa Kevin Warsh akan ditunjuk sebagai Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed). Dukungan Presiden AS Donald Trump terhadap Warsh dinilai dapat memperkuat dolar AS di pasar global.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan sentimen tersebut berpotensi mendorong pelemahan rupiah dalam jangka pendek.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS akibat spekulasi pilihan Trump, Kevin Warsh, sebagai Ketua The Fed yang baru. Hal ini cenderung mendukung penguatan dolar,” ujar Lukman di Jakarta, Senin (2/2/2026)seperti yang dikutip dari Antara.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah sempat bergerak menguat tipis 10 poin atau 0,06 persen ke level Rp16.776 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.786 per dolar AS.
Mengutip laporan internasional, Trump telah menyatakan pilihannya kepada Kevin Warsh, mantan Gubernur The Fed, untuk menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei 2026. Meski dikenal berpandangan ketat terhadap inflasi, Warsh belakangan dinilai sejalan dengan Trump yang mendorong suku bunga lebih rendah.
Trump sendiri menilai suku bunga AS saat ini di kisaran 3,5–3,75 persen masih terlalu tinggi. Ia bahkan menyerukan agar suku bunga diturunkan hingga 1 persen, dengan ambisi menjadikan AS sebagai negara dengan suku bunga terendah di dunia.
“Walaupun Warsh adalah pilihan Trump, ia dipandang berpengalaman di Federal Reserve dan tidak serta-merta akan menuruti tekanan untuk memangkas suku bunga secara agresif,” jelas Lukman.
Tekanan terhadap rupiah juga diperkirakan datang dari pernyataan hawkish Wakil Ketua Pengawas The Fed, Michelle Bowman, yang menegaskan bahwa bank sentral AS masih harus berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.
Namun demikian, Lukman menilai pelemahan rupiah akan relatif terbatas karena pelaku pasar menunggu rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
“Inflasi tahunan diperkirakan naik ke 3,8 persen. Ekspor dan impor memang masih terkontraksi, masing-masing -2,4 persen dan -0,7 persen, tetapi neraca perdagangan tetap surplus sekitar 2,45 miliar dolar AS,” katanya.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor global dan domestik tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.