Loading
Groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I yang dilakukan serentak oleh Danantara di Jakarta, Jumat (6/2/2026). (ANTARA/AMuzdaffar Fauzan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Proyek hilirisasi yang digarap Danantara dinilai berpotensi menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif. Penilaian ini disampaikan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef), yang melihat dampak positif proyek tersebut terhadap produktivitas, investasi, hingga distribusi manfaat ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menjelaskan bahwa desain Danantara sebagai dana investasi strategis pemerintah membuka ruang penguatan kapasitas produksi nasional. Dengan pengelolaan yang tepat, Danantara dinilai mampu memperluas basis pertumbuhan ekonomi, tidak hanya terpusat pada sektor tertentu.
Menurut Esther, proyek-proyek hilirisasi yang dijalankan Danantara diarahkan untuk mengoptimalkan aset dan potensi ekonomi nasional. Efisiensi produksi diharapkan meningkat, mulai dari perbaikan logistik, penurunan biaya operasional, hingga alokasi modal yang lebih tepat sasaran.
Berdasarkan simulasi kebijakan fiskal dan makroekonomi Indef, implementasi hilirisasi Danantara diproyeksikan mampu mendorong output Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan. Pada fase awal, kenaikannya bahkan diperkirakan mendekati 3 persen di atas baseline, sebelum kemudian stabil pada level yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
“Ini bukan lonjakan sementara, tetapi pertumbuhan yang persisten,” ujar Esther.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh akumulasi modal dan naiknya produktivitas total faktor produksi (TFP), yang memperkuat kapasitas ekonomi nasional secara berkelanjutan. Dampaknya, konsumsi rumah tangga juga diperkirakan meningkat secara bertahap seiring naiknya pendapatan riil masyarakat.
Meski dalam jangka pendek terdapat penyesuaian konsumsi akibat perubahan pola tabungan dan investasi, Indef menilai kondisi ini sebagai fase transisi menuju manfaat ekonomi yang lebih besar di masa depan.
Dari sisi distribusi pendapatan, Indef mencatat adanya respons positif di berbagai kelompok masyarakat. Penawaran tenaga kerja meningkat, terutama pada kelompok berpendapatan rendah, yang mencerminkan terbukanya peluang kerja dan pendapatan baru. Hal ini memperkuat karakter inklusif dari pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan.
“Setelah periode penyesuaian, upah bergerak naik secara stabil dan berkelanjutan seiring menguatnya kapasitas produksi dan aktivitas ekonomi,” tambah Esther.
Di sisi fiskal, pembentukan Danantara juga dinilai tetap menjaga keberlanjutan anggaran negara. Rasio utang terhadap PDB diperkirakan bergerak mendekati baseline, sementara penerimaan pajak berpotensi meningkat seiring meluasnya basis pajak akibat pertumbuhan ekonomi, bukan karena kenaikan tarif.
Namun demikian, Indef menegaskan bahwa keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kualitas tata kelola, ketepatan pemilihan proyek, serta konsistensi kebijakan pendukung dari pemerintah.
Saat ini, BPI Danantara menyiapkan 20 proyek hilirisasi strategis dengan total investasi mencapai 26 miliar dolar AS, yang diperkirakan mampu menyerap lebih dari 600 ribu tenaga kerja.
Sebelumnya, Danantara telah melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase pertama pada 6 Februari 2026. Proyek-proyek tersebut mencakup hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium, pengembangan bioetanol dan biorefinery, pembangunan fasilitas peternakan terpadu, hingga pabrik garam modern untuk memperkuat swasembada nasional.