BI Ungkap Peluang Kredit Masih Lebar, Sektor Ini Punya Ruang Pembiayaan Besar


 BI Ungkap Peluang Kredit Masih Lebar, Sektor Ini Punya Ruang Pembiayaan Besar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan paparan dalam sesi policy dialogue acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin (27/4/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Bank Indonesia (BI) mengungkap masih terbukanya peluang besar pembiayaan di sejumlah sektor ekonomi. Hal ini terlihat dari tingginya nilai kredit yang sebenarnya sudah disetujui perbankan, tetapi belum dimanfaatkan oleh pelaku usaha.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan kondisi tersebut tercermin dari rasio undisbursed loan yang masih cukup tinggi di berbagai sektor.

Dalam sesi policy dialogue pada Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Jakarta, Senin (27/4/2026), ia menyebut bahwa angka ini menunjukkan adanya peluang besar yang belum dimaksimalkan.

“Beberapa sektor memiliki rasio undisbursed loan jauh di atas rata-rata. Artinya, masih banyak ruang bagi sektor tersebut untuk memperoleh pembiayaan dari perbankan,” ujar Destry.

Sektor dengan Peluang Pembiayaan Terbesar

BI mencatat sejumlah sektor yang masih memiliki ruang pembiayaan luas, di antaranya:

  • Pertanian
  • Jasa dunia usaha
  • Konstruksi
  • Transportasi dan pengangkutan

Keempat sektor ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jika pembiayaan dapat segera direalisasikan.

Rp2.500 Triliun Kredit Masih Mengendap

Berdasarkan data BI, total fasilitas kredit yang belum dimanfaatkan mencapai Rp2.527,46 triliun, atau sekitar 22,59 persen dari total plafon kredit yang telah disediakan perbankan.

Sebagai catatan, undisbursed loan adalah fasilitas kredit yang sudah disetujui bank, tetapi belum dicairkan atau digunakan oleh debitur.

Angka ini menjadi sinyal bahwa likuiditas sebenarnya tersedia, namun belum sepenuhnya tersalurkan ke sektor riil.

PINISI Jadi Jembatan Pembiayaan

Melalui program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI), BI berupaya menjembatani kebutuhan pembiayaan antara dunia usaha dan perbankan.

“Di sinilah PINISI berperan mempertemukan kebutuhan pembiayaan dari korporasi dan konsumen dengan sumber pendanaan dari perbankan,” jelas Destry.

Program ini juga dirancang untuk:

  • meningkatkan kesiapan proyek,
  • memperbaiki kelayakan pembiayaan,
  • serta memastikan penyaluran kredit berjalan lebih efektif.

Tantangan: Asimetri Informasi dan Dominasi Bank BUMN

Meski kredit perbankan tumbuh sekitar 9,5 persen hingga Maret 2026, penyalurannya masih didominasi oleh bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

BI pun mendorong peran lebih besar dari bank swasta serta kantor cabang bank asing untuk ikut memperluas pembiayaan ke sektor produktif dikutip Antara.

Salah satu hambatan utama yang masih dihadapi adalah asimetri informasi, terutama terkait kelayakan proyek. Kondisi ini membuat bank cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Besarnya nilai kredit yang belum terserap menunjukkan bahwa persoalan pembiayaan bukan semata soal ketersediaan dana, tetapi juga kesiapan proyek dan kualitas informasi. Jika hambatan ini bisa diatasi, dorongan terhadap sektor riil berpotensi meningkat signifikan.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru