Airlangga Ungkap Risiko BBM Naik Imbas Konflik AS–Iran


 Airlangga Ungkap Risiko BBM Naik Imbas Konflik AS–Iran Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menghadiri Opening Ceremony ABAC Meeting I 2026, yang digelar di Jakarta, Sabtu (7/2/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran global, termasuk soal lonjakan harga energi. Pemerintah Indonesia pun mulai bersiap menghadapi potensi dampaknya, terutama terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, perang terbuka antara AS dan Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia. Salah satu pemicunya adalah penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global.

Menurut Airlangga, jika jalur tersebut terganggu, harga minyak mentah dunia hampir pasti terdorong naik. Kondisi itu, kata dia, biasanya akan berimbas langsung pada harga energi di banyak negara, termasuk Indonesia.

“Otomatis BBM akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kemarin. Tapi kali ini suplai dari Amerika juga meningkat, dan OPEC ikut menambah kapasitas produksi,” ujar Airlangga saat ditemui di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Meski demikian, pemerintah menilai tekanan harga masih bisa diredam. Pasalnya, Amerika Serikat meningkatkan produksi minyak, sementara OPEC juga membuka ruang tambahan pasokan guna menstabilkan pasar global.

Di sisi lain, Indonesia juga telah menyiapkan langkah antisipasi. Pemerintah menjalin sejumlah nota kesepahaman (MoU) untuk memastikan pasokan minyak tidak hanya bergantung pada kawasan Timur Tengah.

Salah satu langkah strategis tersebut dilakukan melalui PT Pertamina (Persero), yang menjalin kerja sama dengan perusahaan energi asal AS.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non–Middle East. Kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, dengan Chevron, Exxon, dan beberapa lainnya,” kata Airlangga dikutip Antara.

Sementara itu, situasi di Timur Tengah terus memanas. Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2/2026), seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Pada hari yang sama, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk wilayah Ibu Kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan bangunan serta menimbulkan korban sipil.

Perkembangan konflik ini masih terus dipantau pemerintah, terutama untuk memastikan stabilitas pasokan energi nasional dan menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru