Minggu, 20 September 2026

PM Thailand Dorong Pendekatan Bertahap ASEAN untuk Atasi Krisis Myanmar


 PM Thailand Dorong Pendekatan Bertahap ASEAN untuk Atasi Krisis Myanmar Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul saat menyampaikan pidato di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Selasa (4/8/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan komitmen negaranya untuk terus mendorong penyelesaian krisis Myanmar melalui pendekatan bertahap yang mengedepankan dialog dan diplomasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Anutin saat berpidato di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Selasa (4/8/2026), dalam kunjungan perdananya ke Sekretariat ASEAN sebagai bagian dari agenda kunjungan kerja selama dua hari di Indonesia.

Menurut Anutin, Thailand percaya bahwa keterlibatan kembali (re-engagement) dengan Myanmar perlu dilakukan secara bertahap, dengan tetap membuka ruang komunikasi serta menyesuaikan langkah berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.

"Thailand telah mendorong pendekatan keterlibatan kembali yang dilakukan secara bertahap, dengan tetap membuka ruang dialog serta merespons kondisi di lapangan, sambil mendorong tercapainya kemajuan yang nyata," ujar Anutin.

Ada Sinyal Positif

Anutin menilai strategi tersebut mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu perkembangan yang ia soroti adalah diizinkannya Komite Internasional Palang Merah (ICRC) bertemu dengan pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Ia berharap langkah tersebut menjadi awal dari berbagai kemajuan lain yang dapat mempercepat proses penyelesaian krisis.

Bagi Thailand, Myanmar yang damai dan stabil bukan hanya penting bagi hubungan kedua negara sebagai tetangga, tetapi juga menjadi fondasi bagi persatuan ASEAN dan stabilitas kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.

Konsensus Lima Poin Tetap Jadi Pedoman

Meski mendorong pendekatan yang lebih fleksibel, Anutin menegaskan bahwa Konsensus Lima Poin ASEAN tetap menjadi kerangka utama dalam menangani krisis Myanmar.

Ia juga menekankan bahwa semangat yang sama harus diterapkan ketika terjadi perbedaan pandangan di antara negara-negara anggota ASEAN.

"Perbedaan tersebut harus dikelola secara damai dan dengan itikad baik oleh pihak-pihak yang berkepentingan," katanya.

Singgung Hubungan Thailand-Kamboja

Dalam pidatonya, Anutin turut menyinggung hubungan Thailand dengan Kamboja. Ia menyatakan bahwa sejumlah tindakan yang dilakukan Kamboja dinilai tidak sejalan dengan kesepakatan yang telah dibangun.

Meski demikian, Thailand tetap memilih jalur diplomasi dan penyelesaian damai sesuai hukum internasional, sembari menjaga soliditas ASEAN.

Anutin mengungkapkan bahwa saat bertemu dengan mitranya dari Kamboja dalam KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, kedua pihak sepakat membangun kembali rasa saling percaya dan membuka peluang bagi perundingan bilateral dikutip Antara.

Krisis Myanmar Belum Berakhir

Krisis Myanmar bermula dari kudeta militer pada Februari 2021 yang menggulingkan pemerintahan sipil. Kudeta tersebut memicu demonstrasi besar-besaran yang kemudian berkembang menjadi konflik bersenjata di berbagai wilayah.

Hingga kini, konflik telah menewaskan ribuan orang, memaksa jutaan warga meninggalkan tempat tinggal mereka, serta memperburuk kondisi kemanusiaan di negara tersebut.

Di tengah situasi yang masih kompleks, ASEAN terus berupaya mencari jalan keluar melalui pendekatan diplomasi, dengan harapan perdamaian dan stabilitas di Myanmar dapat segera terwujud.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru