Loading
Ilustrasi - IEA sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran. (Ilustrasi ChatGPT AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengambil langkah darurat untuk menjaga stabilitas pasokan energi dunia. Pada Rabu (11/3/2026), organisasi yang beranggotakan 32 negara tersebut sepakat melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran.
Keputusan ini menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah IEA sejak lembaga tersebut didirikan lebih dari lima dekade lalu.
Langkah tersebut diambil setelah konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran besar terhadap jalur distribusi energi global, terutama di wilayah Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia.
Baca juga:
G7 Bahas Stabilisasi Pasar Minyak Global di Tengah Konflik Iran dan Ancaman di Selat HormuzDirektur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan konflik yang sedang berlangsung telah memberikan tekanan besar pada pasar energi global.
“Konflik di Timur Tengah berdampak signifikan pada pasar minyak dan gas dunia, dengan implikasi besar bagi keamanan energi, keterjangkauan energi, dan ekonomi global,” kata Birol dalam pernyataan resmi dari kantor pusat IEA di Paris.
Baca juga:
Harga Tiket Pesawat ke Eropa Diprediksi Naik Akibat Konflik Iran, Industri Penerbangan Mulai WaspadaIa menambahkan, negara-negara anggota IEA secara bulat menyetujui pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah organisasi.
Cadangan Akan Dilepas BertahapIEA belum menetapkan jadwal pasti kapan seluruh cadangan tersebut akan masuk ke pasar. Namun, pelepasan minyak akan
dilakukan secara bertahap sesuai kondisi masing-masing negara anggota.
Sebagai informasi, anggota IEA sebagian besar merupakan negara maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Organisasi ini didirikan pada tahun 1974 setelah krisis minyak global yang dipicu embargo negara-negara Arab terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Saat ini, negara-negara anggota IEA memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, ditambah sekitar 600 juta barel cadangan industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Krisis energi saat ini tak lepas dari situasi di Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Jalur ini menjadi salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Sekitar 20 persen minyak dan gas global biasanya melewati Selat Hormuz setiap hari, menjadikannya titik strategis bagi perdagangan energi internasional.
Para analis energi memperingatkan bahwa meskipun IEA melepaskan cadangan dalam jumlah besar, langkah tersebut mungkin masih belum cukup untuk menggantikan sekitar 20 juta barel minyak per hari yang biasanya melintas melalui jalur tersebut.
Harga Minyak Berfluktuasi Tajam
Sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari lalu, pasar minyak global mengalami volatilitas tinggi. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melonjak mendekati 120 dolar AS per barel sebelum kembali turun di bawah 90 dolar AS.
Situasi geopolitik yang tidak stabil membuat pasar energi global berada dalam kondisi sangat sensitif terhadap setiap perkembangan konflik.
Jepang Bersiap Lepaskan Cadangan Minyak
Sementara itu, Jepang juga bergerak cepat merespons potensi krisis pasokan energi. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negaranya akan segera melepas cadangan minyak nasional.
Jepang bahkan berencana memulai langkah tersebut paling cepat pada 16 Maret, tanpa menunggu keputusan internasional secara resmi.
Langkah itu diambil karena Jepang memiliki tingkat ketergantungan energi yang sangat tinggi terhadap Timur Tengah.
Menurut laporan yang dilaporkan dan dikutip dari CNBC, keputusan IEA untuk melepas cadangan minyak ini diharapkan dapat menahan gejolak pasar energi global dalam jangka pendek, meskipun ketidakpastian geopolitik masih membayangi.
Pernah Dilakukan saat Perang Ukraina
Ini bukan pertama kalinya IEA menggunakan cadangan strategis untuk menstabilkan pasar energi.
Pada tahun 2022, organisasi tersebut juga pernah melepaskan sekitar 182 juta barel minyak untuk membantu menenangkan pasar setelah invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga energi dunia.
Namun, jumlah cadangan yang dilepas kali ini jauh lebih besar, menandakan tingkat kekhawatiran global terhadap dampak konflik Iran terhadap pasokan energi dunia.