Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026). (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 43 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp17.995 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.952 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari dalam negeri dan faktor eksternal yang masih memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan kepercayaan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia sedang menghadapi tantangan. Sejumlah isu yang muncul memasuki kuartal II dinilai membuat investor lebih berhati-hati.
Beberapa faktor yang menjadi perhatian pasar antara lain kasus korupsi berskala besar, meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Indonesia pada Mei mengalami defisit, lonjakan inflasi, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI (Morgan Stanley Capital International).
Di sisi lain, sektor manufaktur nasional juga menunjukkan perlambatan. Berdasarkan data terbaru S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia berada di level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menandakan kontraksi aktivitas manufaktur sekaligus menjadi penurunan terdalam dalam satu tahun terakhir.
Menurut Ibrahim, data tersebut menunjukkan kondisi operasional pabrik mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pelemahan terutama dipicu oleh turunnya permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia sehingga pesanan baru kembali mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, bahkan menjadi yang tercepat dalam setahun.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari proyeksi lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings. Lembaga tersebut memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang mencapai lima bulan dikutip Antara.
Baca juga:
Rupiah Menguat ke Rp17.921 per Dolar AS, Survei BI Ungkap Aktivitas Dunia Usaha Makin BergairahFitch menilai penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi dunia, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.
Sementara itu, dari eksternal, pelaku pasar juga menantikan rilis data Nonfarm Payrolls Amerika Serikat yang dijadwalkan diumumkan malam ini. Data tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 110 ribu tenaga kerja, sedangkan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,3 persen.
Ekspektasi terhadap data ketenagakerjaan AS menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve, sekaligus berdampak pada pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp17.994 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.961 per dolar AS.