Ilustrasi - Gedung IMF. (apanews.net)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan global. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengingatkan bahwa konflik Iran yang berlarut hingga 2027 berpotensi menyeret ekonomi dunia ke kondisi yang jauh lebih buruk.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyebut skenario tersebut bisa terjadi jika harga minyak melonjak hingga sekitar 125 dolar AS per barel, atau setara Rp2,1 juta.
Menurutnya, tekanan ini bukan sekadar angka, tetapi bisa memicu efek domino yang luas.
Baca juga:
Industri Asuransi Hadapi Profil Risiko Baru akibat Konflik Timur Tengah dan Perubahan Iklim“Jika situasi ini terus berlanjut hingga 2027 dengan harga minyak di kisaran itu, maka hasilnya akan jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan,” ujarnya dalam forum ekonomi global yang digelar oleh Milken Institute.
Ancaman Inflasi dan Ketidakpastian Global
Kenaikan harga minyak bukan hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi mendorong inflasi global semakin tinggi. Bahkan, IMF mengkhawatirkan ekspektasi inflasi bisa lepas kendali jika konflik tak kunjung mereda.
Artinya, biaya hidup di banyak negara bisa meningkat, daya beli masyarakat tertekan, dan pemulihan ekonomi pascapandemi kembali terganggu.
Konflik yang Belum Menemukan Titik Terang
Situasi memanas sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil.
Memasuki awal April, sempat ada harapan damai ketika Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Pembicaraan lanjutan digelar di Islamabad, namun tidak menghasilkan kesepakatan konkret.
Presiden Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata untuk memberi ruang bagi Iran menyusun proposal baru.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Eskalasi konflik ini juga berdampak langsung pada jalur distribusi energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia, sempat mengalami gangguan serius.
Kondisi ini membuat pasokan energi global terancam dan mendorong harga bahan bakar naik di berbagai negara.
Namun, di tengah ketidakpastian tersebut, Trump mengklaim mulai melihat tanda-tanda penurunan harga energi. Ia bahkan optimistis harga akan turun signifikan jika konflik benar-benar berakhir dikutip Antara.
Dunia Menanti Kepastian
Ketidakpastian masih menjadi kata kunci. Selama konflik belum benar-benar mereda, risiko terhadap ekonomi global tetap membayangi.
Bagi banyak negara, terutama yang bergantung pada impor energi, perkembangan ini menjadi alarm serius untuk bersiap menghadapi gejolak ekonomi yang lebih besar.