Loading
Perang Iran Bikin Harga Energi Eropa Naik, tapi Guncangan Inflasi Seperti 2022 Diperkirakan Tak Terulang. (Ilustrasi: ChatGP AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Krisis geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Konflik yang melibatkan Iran memicu kekhawatiran baru tentang pasokan minyak dan gas dunia—dan dampaknya terhadap inflasi di Eropa.
Kondisi ini mengingatkan pada krisis energi tahun 2022 ketika invasi Rusia ke Ukraina membuat harga energi melonjak tajam dan memicu lonjakan inflasi di berbagai negara Eropa. Namun, sejumlah analis menilai situasi saat ini tidak sepenuhnya sama.
Meski harga energi kembali bergerak naik, para ekonom melihat peluang besar bahwa Eropa bisa menghindari guncangan inflasi sebesar yang terjadi empat tahun lalu.
Harga Energi Kembali Bergejolak
Konflik Iran memicu lonjakan harga minyak dan gas karena kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Namun kenaikan tersebut belum menyamai lonjakan ekstrem pada 2022. Saat itu harga minyak sempat melampaui 120 dolar per barel, sementara harga gas Eropa melonjak drastis dan membuat tagihan energi rumah tangga meningkat tajam.
Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah Brent sempat naik sebelum kembali turun setelah Badan Energi Internasional (IEA) menyetujui pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan darurat global untuk menstabilkan pasar.
Baca juga:
Indonesia Siapkan Aturan Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia, Ini Skema yang DipertimbangkanSementara itu, harga gas alam Eropa—yang diukur melalui kontrak berjangka TTF Belanda—juga turun dari level tertinggi tiga tahun di sekitar 63,77 euro per megawatt-jam menjadi di bawah 50 euro per MWh.
Mengapa Dampaknya Berpotensi Lebih Ringan?
Para analis menilai kondisi ekonomi global saat ini berbeda dibandingkan saat krisis energi 2022 terjadi.
James Smith, ekonom pasar negara maju dari ING, menjelaskan bahwa krisis energi sebelumnya terjadi ketika ekonomi global sudah berada dalam kondisi inflasi tinggi.
Pada saat itu, rantai pasokan masih terganggu akibat pandemi, pasar tenaga kerja sangat ketat, dan kebijakan fiskal di banyak negara memperkuat tekanan harga.
“Reaksi awal harga energi terlihat sangat mirip dengan awal invasi Ukraina, tetapi kondisi ekonomi global saat ini sangat berbeda dibandingkan 2022,” kata Smith.
Artinya, meski konflik Iran memicu kenaikan harga energi, tekanan inflasi yang muncul kemungkinan tidak sebesar sebelumnya.
Diversifikasi Energi Jadi Tameng Baru
Salah satu alasan utama mengapa Eropa dinilai lebih siap menghadapi krisis energi adalah diversifikasi sumber energi.Setelah invasi Rusia ke Ukraina, banyak negara Eropa mengurangi ketergantungan pada gas Rusia dan mulai mencari alternatif pasokan energi.
Dilaporkan dan dikutip dari CNBC, CEO perusahaan energi Jerman Uniper, Michael Lewis, mengatakan perusahaannya kini tidak lagi bergantung pada satu sumber pasokan energi.
Uniper telah memperluas sumber gas melalui LNG dan jalur pipa dari berbagai negara, termasuk Norwegia, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Azerbaijan.
Langkah ini dilakukan untuk menghindari ketergantungan pada satu pemasok, seperti yang terjadi sebelumnya dengan perusahaan energi Rusia Gazprom.
Meski begitu, Lewis mengakui Eropa masih belum mampu memproduksi gas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri.
Risiko Tetap Ada Jika Konflik Berkepanjangan
Meski kondisi pasar energi lebih stabil, risiko tetap ada jika konflik berlangsung lama.Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia, berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global.
Selain itu, gangguan produksi gas alam cair (LNG) Qatar—yang menyumbang hampir seperlima pasokan LNG dunia—juga bisa berdampak besar terhadap pasar energi.
Jika gangguan ini berlangsung lama, tekanan inflasi di Eropa bisa kembali meningkat.
Dampak terhadap Inflasi dan Suku Bunga
Para ekonom memperkirakan kenaikan harga energi bisa sedikit mendorong inflasi di Eropa.Dalam skenario tertentu, inflasi zona euro yang saat ini berada di sekitar 1,9% bisa naik menjadi sekitar 2,5% pada kuartal kedua tahun ini.
Di Inggris dan Amerika Serikat, inflasi bahkan bisa mendekati 3%.Meski demikian, kenaikan tersebut diperkirakan hanya akan menunda pemotongan suku bunga, bukan menggagalkannya sepenuhnya.
Beberapa analis juga memperkirakan bank sentral seperti Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi jika harga energi kembali meningkat.
Pasar Masih Dihantui Ketidakpastian
Pergerakan tajam pada harga minyak, gas, dan imbal hasil obligasi menunjukkan bahwa pasar masih menghadapi ketidakpastian tinggi.
Ahli strategi pasar dari BNY, Geoff Yu, mengatakan pasar saat ini masih mencoba menilai dampak konflik terhadap inflasi dan kebijakan moneter.
Ia menilai kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga besar-besaran kemungkinan berlebihan, tetapi investor tetap perlu berhati-hati.
“Yang terpenting adalah memastikan bahwa kejadian pada 2022–2023 tidak terulang kembali,” ujarnya.
Campuran Tantangan Baru bagi Ekonomi Eropa
Di sisi lain, sejumlah analis melihat situasi saat ini sebagai kombinasi faktor yang cukup kompleks.Peter Oppenheimer, kepala strategi ekuitas global di Goldman Sachs, menyebut kondisi yang dihadapi Eropa sebagai “koktail yang rumit.”
Kenaikan harga minyak, pelemahan euro, serta ketidakpastian geopolitik dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan pasar saham.
Jika harga energi terus meningkat dalam waktu lama, bukan tidak mungkin ekspektasi pertumbuhan ekonomi Eropa akan menurun dan memicu koreksi di pasar keuangan.
Konflik Iran memang kembali mengguncang pasar energi global dan memicu kekhawatiran inflasi di Eropa. Namun dibandingkan krisis energi pada 2022, kondisi saat ini dinilai lebih terkendali. Diversifikasi sumber energi, kondisi ekonomi global yang berbeda, serta respons pasar yang lebih cepat membuat Eropa memiliki ketahanan yang lebih baik.
Meski demikian, masa depan tetap sangat bergantung pada seberapa lama konflik berlangsung dan apakah pasokan energi global terganggu secara signifikan.
Jika konflik berkepanjangan, tekanan inflasi masih bisa muncul—meski kemungkinan tidak sebesar krisis energi sebelumnya.