Loading
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono dalam Rapat Anggota Tahunan Kopelindo di Surabaya, Sabtu (28/3/2026). (ANTARA/Kementerian Koperasi)
SURABAYA, ARAHKITA.COM – Upaya memperkuat ekonomi kerakyatan kembali didorong pemerintah. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, membuka peluang lahirnya pola baru pengembangan koperasi melalui skema “kakak asuh”.
Dalam skema ini, koperasi berskala besar diharapkan menjadi pembimbing bagi koperasi yang lebih kecil, khususnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Ferry menyebut, salah satu contoh yang bisa dioptimalkan adalah Koperasi Pelabuhan Indonesia (Kopelindo). Menurutnya, Kopelindo memiliki kapasitas, pengalaman, serta kekuatan aset yang cukup untuk menjadi mentor bagi KDKMP, terutama di wilayah Surabaya dan Jawa Timur.
“Harapannya ada penjajakan Kopelindo bisa menjadi kakak asuh bagi KDKMP di Surabaya maupun Jawa Timur,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Butuh Kolaborasi, Bukan Jalan Sendiri
Pengembangan KDKMP, lanjut Ferry, tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan koperasi besar yang sudah lebih matang secara bisnis.
Koperasi besar dinilai memiliki keunggulan yang bisa ditularkan—mulai dari pengelolaan aset, manajemen usaha, hingga pengalaman membangun jaringan bisnis.
Baca juga:
Melchias Mekeng: Program Makan Bergizi Gratis dan Sekolah Rakyat Dorong Ekonomi KerakyatanKopelindo sendiri menunjukkan performa yang cukup solid. Asetnya tercatat naik dari Rp712 miliar menjadi Rp788 miliar. Pendapatan juga meningkat dari Rp262 miliar menjadi Rp270 miliar, sementara sisa hasil usaha (SHU) tumbuh dari Rp19,4 miliar menjadi Rp20,3 miliar. Jumlah anggotanya pun mencapai lebih dari 6.000 orang.
Angka-angka ini menjadi bukti bahwa koperasi besar mampu berkembang secara profesional sekaligus tetap berakar pada prinsip kebersamaan.
Potensi Besar KDKMP di Jawa Timur
Di Jawa Timur, potensi KDKMP terbilang sangat besar. Tercatat ada sekitar 8.949 KDKMP yang tersebar di berbagai wilayah.Jika dikembangkan optimal, jumlah tersebut setara dengan ribuan unit retail yang bisa menjadi penggerak ekonomi lokal.
Namun, besarnya jumlah ini juga menghadirkan tantangan baru: kebutuhan akan sistem distribusi yang terintegrasi.Di sinilah peran koperasi besar seperti Kopelindo menjadi krusial.
Bangun Pusat Distribusi Koperasi
Ferry menjelaskan, ke depan Kopelindo berpotensi berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) maupun mitra bisnis lainnya untuk membangun pusat distribusi.
Fungsi pusat distribusi ini adalah mengumpulkan, mengelola, dan menyalurkan produk-produk dari KDKMP agar lebih efisien dan memiliki daya saing.
“Ini akan menjadi pusat distribusi yang menghubungkan retail-retail KDKMP di Surabaya maupun Jawa Timur,” jelasnya.Dengan sistem ini, koperasi desa tidak hanya berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih besar dan terstruktur.
Menuju Ekosistem Koperasi yang Kuat
Lebih jauh, Ferry menekankan bahwa konsep “kakak asuh” bukan sekadar bantuan satu arah, melainkan upaya membangun ekosistem koperasi yang saling menguatkan.
Ia mencontohkan bagaimana BUMN telah lama menerapkan konsep sinergi untuk memperkuat bisnisnya. Hal serupa, menurutnya, perlu diterapkan dalam dunia koperasi.
“Kalau di BUMN ada sinergi BUMN, maka di koperasi kita juga harus membangun sinergi koperasi,” tegasnya dikutip Antara.
Dengan kolaborasi yang solid, koperasi di Indonesia diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu naik kelas dan menjadi tulang punggung ekonomi nasional.