Loading
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/Spt
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kenaikan harga energi kembali menjadi tantangan serius bagi dunia usaha. Di tengah melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan pentingnya pengelolaan arus kas yang lebih disiplin serta efisiensi operasional.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menegaskan bahwa langkah mitigasi menjadi kunci agar pelaku usaha tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya yang semakin tinggi.
“Perusahaan perlu memperketat pengelolaan arus kas dan melakukan efisiensi, termasuk dalam penggunaan BBM nonsubsidi. Ini menjadi strategi utama untuk bertahan,” ujarnya di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Kenaikan Tak Terhindarkan, Dampaknya Meluas
Menurut Sarman, kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi saat ini sulit dihindari karena mengikuti tren harga energi global.
Dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh sektor tertentu, tetapi meluas ke berbagai lini industri.
Mulai dari sektor manufaktur, perhotelan, apartemen, restoran, pusat perbelanjaan, hingga logistik dan pertambangan—semuanya terdampak. Bahkan, pelaku UMKM pun ikut merasakan tekanan akibat meningkatnya biaya operasional.
Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi dan distribusi, tetapi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah.
Biaya Operasional Naik, Dunia Usaha Tertekan
Lonjakan harga energi membuat biaya operasional meningkat signifikan. Tidak hanya untuk kendaraan logistik seperti truk, tetapi juga kendaraan operasional harian perusahaan.
Dalam kondisi ini, perusahaan dituntut untuk lebih cermat dalam mengelola pengeluaran agar tidak mengalami gangguan likuiditas.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, tekanan biaya ini bisa berdampak pada stabilitas bisnis, bahkan berujung pada pengurangan tenaga kerja dikutip Antara.
Rekomendasi Kadin untuk Pemerintah
Melihat situasi ini, Kadin memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah agar dunia usaha tetap bisa bertahan:
Menurut Sarman, langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan keberlangsungan usaha.
“Relaksasi dan stimulus diperlukan agar pelaku usaha tetap bertahan tanpa harus melakukan PHK,” tegasnya.
Harga Energi Naik Signifikan
Sebelumnya, pemerintah telah menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sejak 18 April 2026. Kebijakan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang dipengaruhi tensi geopolitik global.
Tak hanya BBM, harga LPG nonsubsidi ukuran 12 kg juga mengalami kenaikan cukup tajam, dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung—melonjak sekitar 18,75 persen.
Di tengah ketidakpastian global, dunia usaha memang tidak punya banyak pilihan selain beradaptasi. Pengelolaan arus kas yang sehat dan efisiensi operasional kini bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan utama untuk bertahan.