Loading
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) menghadiri Pertemuan Pertama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (FMCBG) Presidensi G20 Amerika Serikat (AS) di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (14/4/2026). ANTARA/HO-Bank Indonesia/aa.
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Indonesia tak ingin sekadar menjadi penonton dalam perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pemerintah menegaskan kesiapan untuk mengambil peran aktif dalam membentuk tata kelola AI global yang inklusif, sekaligus membawa perspektif negara berkembang ke panggung dunia.
Pernyataan ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam forum internasional IMFC Early Warning Exercise, bagian dari rangkaian Pertemuan Musim Semi IMF–World Bank yang berlangsung pada 13–17 April 2026 di Washington, DC, Amerika Serikat.
Menurut Purbaya, perjalanan Indonesia dalam mengadopsi AI telah berkembang pesat. Jika sebelumnya masih berada pada tahap awal, kini teknologi tersebut telah menjadi bagian penting dalam berbagai sektor ekonomi nasional.
“AI bukan lagi masa depan, tapi sudah menjadi bagian dari sistem ekonomi kita hari ini,” ujarnya.
Pertumbuhan Pesat Infrastruktur Digital
Transformasi ini tidak terjadi begitu saja. Pada 2025, sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mencatat pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah, yakni mencapai 8,35 persen.
Capaian ini didukung oleh pembangunan infrastruktur digital yang masif, termasuk:
Infrastruktur ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat adopsi AI di berbagai bidang, mulai dari industri, layanan publik, hingga sektor keuangan.
Bangun Ekosistem AI, Bukan Sekadar Konsumen
Indonesia kini tidak hanya ingin menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengembang solusi berbasis AI. Pemerintah terus memperkuat ekosistem nasional agar teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas dalam negeri.
Namun, di tengah optimisme tersebut, pemerintah juga tidak menutup mata terhadap berbagai risiko yang bisa muncul.
Beberapa risiko yang menjadi perhatian antara lain:
Dorong Sistem Peringatan Dini Global
Sebagai bagian dari kontribusi global, Indonesia mendorong pembentukan mekanisme peringatan dini khusus AI. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dampak sistemik terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan global.
Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya distribusi manfaat AI secara merata agar pertumbuhan ekonomi dunia tidak hanya dinikmati oleh negara maju, tetapi juga negara berkembang dikutip Antara.
Perkuat Kerja Sama Internasional
Di sela-sela forum IMF–World Bank, Menteri Keuangan juga melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan mitra internasional.Salah satu pertemuan penting dilakukan dengan Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann. Dalam pertemuan tersebut, OECD menyatakan dukungannya terhadap proses aksesi Indonesia serta penguatan kapasitas institusi nasional, termasuk pada pengembangan Lembaga Nasional Single Window (LNSW).