Selasa, 11 Agustus 2026

Rosan: Investasi Jadi Kunci Indonesia Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen


 Rosan: Investasi Jadi Kunci Indonesia Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyampaikan paparan dalam acara “Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast” di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (8/5/2026). ANTARA/Aria Ananda/aa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik dunia, pemerintah Indonesia menaruh harapan besar pada sektor investasi untuk menjaga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa investasi kini menjadi salah satu faktor paling penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen dalam beberapa tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Rosan dalam acara Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Menurut Rosan, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 berhasil tumbuh sebesar 5,61 persen. Dari angka tersebut, investasi memberikan kontribusi signifikan sekitar 1,79 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi kita memang masih berasal dari konsumsi domestik yang kuat. Namun setelah itu, investasi menjadi penopang terbesar kedua,” ujar Rosan.

Ia menjelaskan, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi kini terus meningkat. Jika sebelumnya hanya berada di kisaran 27–28 persen, saat ini kontribusinya sudah mencapai sekitar 31–32 persen.

Investasi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Pemerintah menilai peningkatan investasi menjadi syarat penting apabila Indonesia ingin mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Karena itu, pemerintah menetapkan target investasi tahun 2026 sebesar 123,7 miliar dolar AS. Angka tersebut dinilai penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja.

Rosan memaparkan, selama periode 2014–2024, realisasi investasi Indonesia telah mencapai sekitar 552,6 miliar dolar AS.

Sementara untuk lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan realisasi investasi menembus 789,9 miliar dolar AS.

Menurutnya, target besar tersebut hanya bisa dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra internasional.

“Ini bisa dicapai jika kita semua bekerja bersama, melakukan kolaborasi dan sinergi,” katanya.

Pada kuartal I 2026 sendiri, realisasi investasi Indonesia tercatat mencapai sekitar 30,2 miliar dolar AS. Investasi tersebut juga disebut berhasil menciptakan sekitar 706 ribu lebih lapangan pekerjaan baru.

Singapura Masih Jadi Investor Terbesar

Dalam paparannya, Rosan juga menyebut bahwa Singapura masih menjadi investor asing langsung terbesar di Indonesia.

Selain Singapura, sejumlah negara lain yang masuk dalam daftar investor utama Indonesia antara lain Hong Kong, China, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, hingga Belanda.

Besarnya minat investor asing dinilai menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai negara dengan potensi ekonomi yang menjanjikan di kawasan Asia.

Hilirisasi Dinilai Perkuat Daya Tahan Ekonomi

Selain investasi, pemerintah juga terus mendorong program hilirisasi industri sebagai strategi memperkuat ekonomi nasional.Saat ini, sekitar 30 persen kontribusi investasi nasional berasal dari program hilirisasi, terutama di sektor mineral dan energi.

Pemerintah pun mulai memperluas hilirisasi ke berbagai sektor lain seperti kehutanan, minyak dan gas, perikanan, kelautan, hingga komoditas pertanian.

Rosan mencontohkan besarnya potensi sumber daya alam Indonesia, terutama nikel. Indonesia diketahui memiliki sekitar 42 persen cadangan nikel dunia, yang dinilai menjadi peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.

Tak hanya nikel, Indonesia juga memiliki cadangan bauksit dan tembaga yang termasuk terbesar di dunia dikutip Antara.

Menurut Rosan, hilirisasi bukan sekadar meningkatkan ekspor komoditas mentah, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, dan menjaga daya tahan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru