Senin, 05 Oktober 2026

Ekonomi RI Mulai Menguat, Tiga Indikator Ini Jadi Sinyalnya


 Ekonomi RI Mulai Menguat, Tiga Indikator Ini Jadi Sinyalnya uru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto . (ekon.go.id)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Memasuki triwulan IV-2026, perekonomian Indonesia menunjukkan sejumlah tanda penguatan. Pemerintah melihat sedikitnya tiga indikator penting bergerak ke arah positif, mulai dari stabilitas harga, kinerja perdagangan hingga aktivitas industri manufaktur.

Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10/2026), Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan tiga indikator tersebut adalah inflasi September 2026, neraca perdagangan Januari–Agustus 2026, serta Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur September 2026.

Ketiganya memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi ekonomi. Inflasi menunjukkan bagaimana pergerakan harga dan daya beli, neraca perdagangan menggambarkan kinerja sektor eksternal, sedangkan PMI memberikan gambaran mengenai aktivitas industri dan permintaan baru.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai kombinasi ketiga indikator tersebut menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Inflasi September Masih dalam Sasaran

Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Secara bulanan, inflasi September tercatat 0,30 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,17 persen. Inflasi inti juga relatif terkendali pada level 2,84 persen yoy.

Namun, pemerintah tetap mewaspadai perkembangan harga pangan.

Komponen volatile food atau kelompok pangan bergejolak masih mencatat inflasi 5,03 persen yoy. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi perubahan permintaan, penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura, cuaca ekstrem, El Nino, hingga bencana alam.

Artinya, meskipun inflasi secara umum masih berada dalam sasaran, harga pangan tetap menjadi salah satu pekerjaan rumah memasuki akhir tahun.

Pemerintah pun memperkuat sejumlah langkah untuk menjaga pasokan sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

Upaya tersebut antara lain melalui penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III, bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan untuk periode Oktober–Desember 2026, serta percepatan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Perum Bulog.

Gerakan pangan murah, optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP), kerja sama antardaerah, hingga penguatan produksi pangan juga menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas harga.

Neraca Perdagangan Masih Surplus

Sinyal positif berikutnya datang dari sektor perdagangan.

BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mengalami surplus US$7,25 miliar. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar US$28,54 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit US$21,29 miliar.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama Januari–Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar atau tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor nonmigas juga meningkat 5,48 persen menjadi US$185,63 miliar.

Pada Agustus saja, ekspor Indonesia mencapai US$26,61 miliar, meningkat 6,72 persen dibandingkan Agustus 2025. Sementara impor tercatat US$23,06 miliar atau meningkat 19,09 persen secara tahunan.

Sejumlah komoditas menjadi penopang ekspor nasional, antara lain produk besi dan baja, minyak kelapa sawit beserta turunannya, serta batu bara.

Kinerja ekspor industri pengolahan juga menjadi perhatian karena menunjukkan kontribusi aktivitas hilirisasi terhadap perdagangan luar negeri Indonesia.

Menariknya, kenaikan impor tidak seluruhnya harus dibaca sebagai tekanan. Sebagian besar impor justru berupa bahan baku, bahan penolong, dan barang modal yang dibutuhkan untuk kegiatan produksi.

Kondisi ini terlihat dari meningkatnya impor mesin atau peralatan mekanis serta mesin dan perlengkapan elektrik.

Jika berlanjut, meningkatnya kebutuhan terhadap bahan baku dan barang modal dapat menjadi indikasi bahwa aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri mulai bergerak lebih aktif.

Manufaktur Kembali Masuk Zona Ekspansi

Sinyal ketiga datang dari sektor manufaktur.

PMI Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global meningkat cukup tajam menjadi 52,4 pada September 2026, dari 49,8 pada Agustus.

Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi. Dengan demikian, kenaikan ke level 52,4 menandai kembalinya industri manufaktur ke fase ekspansi setelah sebelumnya berada di zona kontraksi.

Perbaikan tersebut tidak hanya terlihat pada satu komponen.

Pesanan baru meningkat dengan laju tercepat sejak Februari 2026. Pesanan ekspor juga tumbuh lebih kuat dan mencatat laju pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Produksi ikut meningkat, didorong oleh bertambahnya permintaan pelanggan, proyek baru, peningkatan daya beli, serta bertambahnya jenis produk yang diproduksi.

Aktivitas pembelian bahan baku dan persediaan input juga kembali meningkat. Penyerapan tenaga kerja pun mengalami pertumbuhan.

Dari sisi biaya, tekanan harga input dan output dilaporkan melambat. Kondisi tersebut memberikan sedikit ruang bagi produsen di tengah berbagai tantangan biaya produksi.

Apa Artinya bagi Ekonomi Indonesia?

Jika dilihat secara bersama-sama, ketiga indikator tersebut memberikan gambaran mengenai beberapa sisi penting perekonomian.

Inflasi yang masih berada dalam sasaran menunjukkan stabilitas harga secara umum tetap terjaga. Surplus perdagangan menunjukkan ekspor masih mampu mengimbangi impor secara keseluruhan. Sementara itu, kenaikan PMI memperlihatkan aktivitas manufaktur kembali tumbuh.

Namun, penguatan tersebut bukan berarti seluruh persoalan ekonomi telah selesai.

Harga pangan masih perlu diwaspadai. Sektor migas masih mencatat defisit perdagangan. Industri juga tetap menghadapi tantangan berupa biaya produksi, persaingan, kondisi permintaan global, serta ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia.

Karena itu, keberlanjutan momentum ekonomi akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga daya beli sekaligus mendorong investasi dan produksi.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan pemerintah akan terus mengarahkan kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional.

Dengan fondasi stabilitas yang tetap dijaga dan aktivitas manufaktur yang mulai kembali ekspansif, pemerintah berharap momentum penguatan ekonomi dapat berlanjut memasuki triwulan IV-2026.

Bagi masyarakat, perkembangan ini pada akhirnya akan terasa bukan hanya melalui angka statistik, tetapi juga dari harga kebutuhan sehari-hari, kesempatan kerja, aktivitas industri, hingga kemampuan dunia usaha mempertahankan dan memperluas kegiatan produksi.

Karena itu, tiga indikator tersebut layak terus dipantau dalam beberapa bulan ke depan. Bukan semata karena menunjukkan kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga karena dapat memberi petunjuk mengenai arah perekonomian Indonesia menuju akhir 2026.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru