Kemenkeu Masih Intervensi Pasar Obligasi untuk Jaga Rupiah, Pembelian SBN Terus Berjalan


 Kemenkeu Masih Intervensi Pasar Obligasi untuk Jaga Rupiah, Pembelian SBN Terus Berjalan Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu Astera Primanto Bhakti (kanan) memberikan pemaparan dalam taklimat media, di Jakarta, Jumat (3/10/2025). (ANTARA/Imamatul Silfia)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan langkah intervensi di pasar obligasi masih terus dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global.

Intervensi tersebut dilakukan lewat pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga kepercayaan pasar sekaligus menahan gejolak nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian ekonomi dunia.

Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu, Astera Primanto Bhakti, mengatakan pembelian obligasi negara masih berlangsung hingga saat ini. Meski belum mengungkap nilai terbaru dari realisasi pembelian tersebut, ia memastikan progresnya terus mengalami peningkatan.

“Masih berlangsung,” ujar Astera saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Ketika ditanya mengenai perkembangan realisasi pembelian dibanding sebelumnya yang mencapai Rp600 miliar, Astera menyebut tren intervensi menunjukkan hasil yang semakin baik.

“Ya, progresnya makin baik lah,” katanya.

Langkah pembelian kembali obligasi pemerintah di pasar sekunder dilakukan melalui mekanisme pengelolaan kas atau cash management. Strategi ini dinilai penting untuk membantu menjaga stabilitas pasar surat utang domestik sekaligus menopang pergerakan rupiah agar tidak mengalami tekanan lebih dalam.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan pemerintah saat ini masih menggunakan pendekatan pengelolaan kas negara untuk melakukan intervensi pasar obligasi. Menurutnya, skema tersebut belum diperluas melalui framework lain yang melibatkan lembaga tambahan.

“Ada dua cara masuk melalui framework, atau melalui cash management kita sendiri. Ini baru cash management,” ujar Purbaya.

Ia menambahkan, bila kondisi pasar memburuk, pemerintah dapat memperluas intervensi dengan melibatkan sejumlah institusi seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Namun, menurutnya situasi saat ini masih relatif terkendali.

“Sekarang belum separah itu, keadaannya masih relatif lumayan,” katanya dikutip Antara.

Dalam upaya menjaga stabilitas pasar surat utang domestik, pemerintah juga memanfaatkan Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund. Sebelumnya, Purbaya bahkan menargetkan dana intervensi hingga Rp2 triliun per hari untuk masuk ke pasar obligasi, meski realisasi awal baru mencapai sekitar Rp600 miliar.

Kebijakan ini menjadi salah satu langkah antisipatif pemerintah menghadapi dinamika global yang masih memicu volatilitas di pasar keuangan, termasuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar obligasi nasional.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru